Al-Quran bukan sekadar kitab hukum; ia adalah kitab kisah yang mengajarkan keimanan melalui narasi yang hidup. Dua nabi yang kisahnya paling banyak diabadikan dalam Al-Quran adalah Ibrahim a.s. dan Musa a.s. Masing-masing membawa pesan universal yang relevan untuk setiap zaman. Jangan lewatkan sholat, karena sholat Ibrahim, doa permohonannya ketika membangun Ka'bah, dan shalawat Ibrahim dalam sholat kita, adalah warisan spiritual yang menghubungkan kita langsung dengannya.

Nabi Ibrahim: Khalilullah (Kekasih Allah)

Di antara semua nabi dan rasul, Ibrahim a.s. mendapat gelar yang tidak dimiliki oleh nabi lain dalam Al-Quran: Khalilullah, kekasih Allah. Allah berfirman:

"Dan siapakah yang lebih baik agamanya daripada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang ia pun mengerjakan kebaikan, dan ia mengikuti agama Ibrahim yang lurus? Dan Allah mengambil Ibrahim sebagai kekasih (khalil)." (QS An-Nisa 4:125)

Gelar Khalilullah bukan sekadar kehormatan. Ia mencerminkan kondisi hati yang mencintai Allah di atas segalanya, dan Allah pun membalasnya dengan kecintaan yang sempurna. Ibrahim a.s. lahir di Ur, Mesopotamia (kini Irak), dari seorang ayah bernama Azar yang adalah pembuat dan penjual berhala. Ironi terbesar dalam sejarah: anak pembuat berhala menjadi penghancur terbesar peradaban berhala.

Menghancurkan berhala

Sejak muda, Ibrahim a.s. mempertanyakan keyakinan kaumnya yang menyembah berhala. Dengan logika yang tajam, ia menantang: bagaimana bintang, bulan, dan matahari bisa menjadi tuhan jika mereka terbenam dan hilang? (QS 6:76-79). Setelah keyakinan tauhidnya matang, Ibrahim mengambil langkah berani.

Ketika kaum Babilonia pergi ke festival, Ibrahim masuk ke kuil mereka dan menghancurkan semua berhala kecuali yang terbesar. Ia menggantungkan kapak di leher berhala terbesar. Ketika kaum itu kembali dan menemukan kuil mereka porak-poranda, mereka menginterogasi Ibrahim:

"Mereka bertanya: 'Apakah kamu yang melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami, wahai Ibrahim?' Dia (Ibrahim) menjawab: 'Sebenarnya yang melakukannya adalah patung besar itu. Maka tanyakanlah kepada mereka, jika mereka dapat berbicara.'" (QS Al-Anbiya 21:62-63)

Jawaban Ibrahim ini bukan kebohongan, melainkan argumen logis yang mematahkan akal sehat penyembah berhala: jika mereka percaya berhala punya kekuatan, tanyakan kepada berhala terbesar. Ketika mereka menyadari berhala tidak bisa berbicara, argumen mereka runtuh. Namun karena gengsi dan keras kepala, mereka justru memutuskan untuk membakar Ibrahim.

Dilempar ke api: "jadilah dingin dan selamat"

Raja Namrud memerintahkan agar Ibrahim dilempar ke dalam kobaran api yang sangat besar. Al-Quran mencatat bahwa mereka mengumpulkan kayu bakar dalam jumlah besar selama berhari-hari. Bahkan Iblis sendiri dikatakan memberikan ide cara melempar Ibrahim ke dalam api menggunakan manjaniq (ketapel raksasa) agar tidak ada yang ikut terpanggang.

Ketika Ibrahim melayang menuju api, Malaikat Jibril datang dan menawarkan pertolongan. Ibrahim menjawab: "Allah cukup bagiku, dan Dia sebaik-baik penolong." (HR Bukhari) Inilah doa yang kemudian kita kenal sebagai "hasbunallah wa ni'mal wakil."

"Mereka berkata: 'Bakarlah dia dan bantulah tuhan-tuhan kamu, jika kamu benar-benar hendak berbuat.' Kami berfirman: 'Wahai api! Jadilah engkau dingin dan keselamatan bagi Ibrahim!'" (QS Al-Anbiya 21:68-69)

Ibrahim keluar dari api tanpa terluka. Ini bukan sekadar mukjizat fisik. Ini adalah pernyataan Allah bahwa tidak ada kekuatan di dunia yang bisa membahayakan seseorang yang telah menyerahkan diri sepenuhnya kepada-Nya.

Hajar, Ismail, dan munculnya air Zamzam

Ibrahim memiliki dua istri: Sarah dan Hajar. Dari Hajar lahirlah Ismail, putra pertamanya. Atas perintah Allah, Ibrahim membawa Hajar dan bayi Ismail ke lembah gersang tak berpenghuni yang kelak menjadi Mekah. Ia meninggalkan mereka hanya dengan bekal air dan kurma yang segera habis.

Hajar yang panik berlari tujuh kali antara bukit Shafa dan Marwa mencari air. Inilah yang kemudian diabadikan dalam ritual Sa'i dalam ibadah haji dan umrah. Ketika harapan hampir habis, bayi Ismail menghentakkan kakinya ke tanah dan keluarlah air yang kita kenal sebagai Zamzam, air paling istimewa di muka bumi.

Rasulullah ﷺ bersabda tentang Zamzam: "Air Zamzam itu untuk tujuan apapun ia diminum." (HR Bukhari no. 3364). Hingga hari ini, jutaan peziarah meminum Zamzam dan membawanya pulang, air yang mengalir tanpa henti sejak ribuan tahun lalu.

Membangun Ka'bah bersama Ismail (QS 2:127-129)

Ketika Ismail telah tumbuh dewasa, Ibrahim kembali ke Mekah atas perintah Allah untuk membangun rumah ibadah pertama di muka bumi. Ayah dan anak bahu-membahu mengangkat batu-batu dan menyusunnya menjadi Ka'bah yang kita lihat hari ini. Sambil membangun, keduanya berdoa:

"Dan (ingatlah) ketika Ibrahim meninggikan pondasi Baitullah bersama Ismail (seraya berdoa): 'Ya Tuhan kami, terimalah amal kami. Sungguh, Engkaulah Yang Maha Mendengar, Maha Mengetahui. Ya Tuhan kami, jadikanlah kami orang yang berserah diri kepada-Mu, dan anak cucu kami (juga) umat yang berserah diri kepada-Mu. Tunjukkanlah kepada kami cara-cara melakukan ibadah kami, dan terimalah tobat kami. Sungguh, Engkaulah Yang Maha Penerima tobat, Maha Penyayang.'" (QS Al-Baqarah 2:127-128)

Doa ini mengandung permohonan yang luar biasa: bukan hanya untuk diri sendiri, tapi untuk seluruh keturunan dan umat yang akan datang. Ketika setiap Muslim sholat menghadap Ka'bah hari ini, mereka sedang memenuhi doa Ibrahim yang dipanjatkan ribuan tahun lalu.

Mimpi kurban dan asal-usul Idul Adha (QS 37:100-111)

Ujian terberat Ibrahim datang dalam bentuk mimpi. Dalam mimpinya, ia melihat dirinya menyembelih putranya, Ismail. Dalam Islam, mimpi para nabi adalah wahyu. Ibrahim menceritakannya kepada Ismail, dan jawaban sang putra adalah kalimat yang paling mengharukan dalam sejarah:

"Dia (Ismail) menjawab: 'Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar.'" (QS Ash-Shaffat 37:102)

Ibrahim membaringkan Ismail, dan ketika pisau hampir menyentuh leher putranya, Allah berseru:

"Wahai Ibrahim! Sungguh, engkau telah membenarkan mimpi itu. Sungguh, demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik." (QS Ash-Shaffat 37:104-105)

Allah menggantikan Ismail dengan seekor kibas (domba jantan besar) yang diturunkan dari surga. Inilah asal-usul ibadah kurban yang kita lakukan setiap Idul Adha. Setiap Muslim yang berkurban pada 10 Dzulhijjah dan hari-hari tasyrik adalah meneruskan sunnah Ibrahim a.s. yang paling agung.

Shalawat Ibrahim dalam setiap sholat

Nama Ibrahim a.s. diabadikan dalam setiap sholat yang dilakukan umat Islam. Dalam tasyahud akhir, kita membaca shalawat Ibrahim:

"Allahumma shalli ala Muhammad wa ala ali Muhammad, kama shallayta ala Ibrahim wa ala ali Ibrahim. Wa barik ala Muhammad wa ala ali Muhammad, kama barakta ala Ibrahim wa ala ali Ibrahim, innaka hamidun majid."

Kita memohon agar Allah memberikan sholawat kepada Nabi Muhammad sebagaimana Ia memberikan sholawat kepada Ibrahim. Ini menunjukkan betapa tingginya kedudukan Ibrahim di sisi Allah dan di hati umat Islam sepanjang zaman.

Nabi Musa: nabi paling banyak disebut dalam Al-Quran

Jika Ibrahim adalah nabi yang berkaitan dengan Ka'bah dan asal-usul tauhid, maka Musa a.s. adalah nabi yang berkaitan dengan pembebasan dan hukum. Musa disebut sebanyak 136 kali dalam Al-Quran, lebih banyak dari nabi mana pun, termasuk Nabi Muhammad ﷺ yang disebut 4 kali secara langsung.

Mengapa Musa begitu sering disebut? Karena kisahnya mengandung dimensi yang sangat manusiawi: seorang yang dilahirkan dalam kondisi paling rentan, dibesarkan di lingkungan musuh, melarikan diri karena kesalahan, lalu kembali menghadapi penguasa terkuat zamannya. Setiap elemen kisah Musa adalah pelajaran yang relevan untuk setiap generasi.

Dibuang ke Sungai Nil (QS 28:7-13)

Musa lahir di Mesir pada masa pemerintahan Firaun yang memerintahkan pembunuhan semua bayi laki-laki dari Bani Israel karena khawatir dengan ramalan bahwa seorang anak dari bangsa itu akan merebut kekuasaannya. Ibu Musa, atas ilham Allah, menaruh bayi Musa dalam sebuah peti dan menghanyutkannya ke Sungai Nil:

"Dan Kami ilhamkan kepada ibu Musa, 'Susuilah dia (Musa), dan apabila engkau khawatir terhadapnya maka hanyutkanlah dia ke sungai (Nil). Dan janganlah engkau takut dan jangan (pula) bersedih hati, sesungguhnya Kami akan mengembalikannya kepadamu, dan menjadikannya salah seorang rasul.'" (QS Al-Qashash 28:7)

Peti itu terdampar di tepi sungai dekat istana Firaun. Istri Firaun, Asiyah, menemukan bayi itu dan jatuh cinta. Ia membujuk Firaun untuk tidak membunuhnya, bahkan mengadopsinya. Musa pun dibesarkan di dalam istana musuh terbesar umatnya.

Saudari Musa mengikuti peti tersebut dari jauh. Ketika Asiyah mencari wanita yang bisa menyusui Musa, saudari Musa menawarkan ibunya sendiri. Dengan cara yang indah ini, Allah mengembalikan Musa ke pelukan ibunya dan memberikan upah menyusui pula kepada sang ibu (QS 28:12-13).

Menghadapi Firaun: tongkat dan tangan bercahaya

Setelah dewasa, Musa membunuh seorang Mesir yang sedang menganiaya seorang Bani Israel, lalu melarikan diri ke Madyan. Di sana ia menikah dengan putri Nabi Syuaib a.s. dan bekerja selama 10 tahun. Dalam perjalanan pulang ke Mesir, di Bukit Tur Sinai, Allah memanggil Musa:

"Sungguh, Aku inilah Allah, tidak ada tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku dan laksanakanlah sholat untuk mengingat Aku." (QS Thaha 20:14)

Allah memberikan Musa dua mukjizat untuk menghadapi Firaun:

  • Tongkat: Ketika dilemparkan, berubah menjadi ular besar yang nyata (QS 27:10). Dalam pertandingan terbuka dengan para penyihir Firaun, tongkat Musa menelan semua ular buatan mereka.
  • Tangan bercahaya: Ketika dimasukkan ke balik baju dan dikeluarkan, tangan Musa bersinar putih terang tanpa cacat penyakit (QS 27:12).

Musa menghadap Firaun dengan permintaan: bebaskan Bani Israel. Firaun menolak dengan sombong, mengklaim dirinya sebagai "tuhan tertinggi" (QS 79:24). Allah mengirimkan sembilan bencana kepada Mesir (banjir, belalang, kutu, katak, darah, dan lainnya), namun Firaun tetap menolak setiap kali bencana terangkat.

Laut terbelah dan tenggelamnya Firaun

Akhirnya Allah memerintahkan Musa membawa Bani Israel keluar dari Mesir pada malam hari. Firaun sadar dan mengerahkan seluruh pasukannya untuk mengejar. Bani Israel terperangkap di tepi laut dengan musuh di belakang mereka. Para sahabat Musa mulai putus asa: "Kita pasti akan tertangkap!" (QS Asy-Syuara 26:61). Musa menjawab dengan keyakinan penuh:

"Dia (Musa) menjawab: 'Sekali-kali tidak! Sesungguhnya Tuhanku bersamaku, Dia akan memberi petunjuk kepadaku.'" (QS Asy-Syuara 26:62)

Allah memerintahkan Musa memukul laut dengan tongkatnya. Laut terbelah menjadi 12 jalur, satu untuk setiap suku Bani Israel, dengan dinding air tegak di kanan dan kiri. Bani Israel menyeberang dengan selamat.

Ketika Firaun dan pasukannya memasuki jalan laut yang sama, Allah menutupkan kembali airnya. Dalam detik-detik terakhir menjelang tenggelam, Firaun mengucapkan: "Aku percaya bahwa tidak ada tuhan selain yang dipercayai Bani Israel." (QS Yunus 10:90)

Namun pertobatan di saat ajal tidak diterima. Allah berfirman sesuatu yang sangat mencengangkan:

"Maka pada hari ini Kami selamatkan jasadmu agar engkau dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang setelahmu." (QS Yunus 10:92)

Dan benar, jasad Firaun yang diawetkan (mumi) ditemukan oleh arkeolog modern dan kini tersimpan di Museum Kairo. Tubuh Ramesses II atau Merneptah, yang diyakini banyak ulama dan sejarawan sebagai Firaun Musa, bisa disaksikan langsung sebagai pengingat nyata tentang akibat kesombongan dan kezaliman.

40 hari di Tur Sinai dan kisah Khidir

Setelah selamat, Musa membawa Bani Israel ke Semenanjung Sinai. Allah memanggil Musa untuk bermunajat selama 40 hari 40 malam di Bukit Tur Sinai, dan di sana Allah menurunkan Taurat. Selama Musa pergi, Bani Israel yang lemah iman menyembah anak lembu emas atas bujukan seorang bernama Samiri. Ini adalah pelajaran keras tentang rapuhnya keimanan tanpa pemimpin yang kuat.

Al-Quran juga mencatat perjalanan spiritual Musa bersama Khidir, hamba Allah yang saleh dengan ilmu tersembunyi. Kisah ini diabadikan dalam QS Al-Kahfi 18:60-82 dan mengandung pelajaran mendalam: ada hikmah di balik setiap kejadian yang tampak buruk. Musa, nabi besar yang mendapat wahyu langsung, harus belajar bahwa ilmu manusia selalu terbatas.

Hikmah bersama: pelajaran utama dari dua nabi

Dari seluruh kisah Ibrahim dan Musa, beberapa nilai universal muncul sebagai benang merah:

Tauhid yang tak bisa dikompromikan

Ibrahim menghancurkan berhala karena tidak ada toleransi untuk kemusyrikan. Musa menolak mengakui ketuhanan Firaun meski nyawanya terancam. Keduanya mengajarkan bahwa tauhid bukan sekadar keyakinan, melainkan prinsip hidup yang membentuk seluruh tindakan.

Sabar di jalan ujian

Ibrahim diuji dengan api, pengasingan keluarga, dan perintah menyembelih putra. Musa diuji dengan pengejaran Firaun, ketidaktaatan Bani Israel, dan penantian panjang di Sinai. Keduanya melewati ujian bukan karena tidak merasakan beratnya, tapi karena tawakkal mereka kepada Allah lebih besar dari rasa takut mereka.

Tawakkal yang sempurna

"Hasbunallah wa ni'mal wakil" dari Ibrahim dan "Inna ma'iya rabbi" dari Musa adalah dua ungkapan tawakkal yang menjadi teladan. Tawakkal bukan berarti pasif, melainkan mengambil tindakan terbaik lalu menyerahkan hasilnya kepada Allah.

Keberanian menyampaikan kebenaran

Ibrahim berani menentang raja Namrud yang berkuasa absolut. Musa berani menghadap Firaun dengan hanya tongkat di tangan. Keduanya mengajarkan bahwa kebenaran harus disampaikan meski menghadapi kekuatan dunia yang paling besar sekalipun.

Refleksi: Setiap kali Anda membaca shalawat Ibrahim dalam sholat, ingatlah: Anda sedang terhubung dengan warisan seorang Khalilullah yang dilempar ke api namun tidak terbakar, yang membangun Ka'bah sebagai rumah Allah, dan yang rela mengorbankan segalanya demi cintanya kepada Allah.

Jangan lewatkan sholat

Sholat Anda adalah warisan Ibrahim dan Musa.

Setiap sholat yang kita dirikan hari ini adalah kelanjutan dari perintah yang diterima Ibrahim dan Musa ribuan tahun lalu. Gunakan FivePrayer untuk tidak melewatkan satu pun.

Unduh diApp Store
Dapatkan diGoogle Play
Juga diChrome

Pertanyaan umum

Mengapa Nabi Ibrahim disebut Khalilullah?

Nabi Ibrahim a.s. disebut Khalilullah (kekasih Allah) karena ketulusan, kepatuhan, dan cintanya yang sempurna kepada Allah melebihi segalanya termasuk anak, keluarga, dan nyawanya sendiri. Allah menyebutnya secara langsung dalam QS An-Nisa 4:125. Ini adalah gelar tertinggi dalam Al-Quran untuk seorang manusia.

Apa mukjizat Nabi Ibrahim ketika dilempar ke api?

Ketika Raja Namrud memerintahkan Ibrahim dibakar hidup-hidup karena menghancurkan berhala, Allah memerintahkan api: "Wahai api, jadilah dingin dan keselamatan bagi Ibrahim!" (QS Al-Anbiya 21:69). Ibrahim keluar dari api yang sangat besar itu tanpa terluka sedikit pun. Ini adalah bukti nyata bahwa tidak ada kekuatan di dunia yang bisa membahayakan kekasih Allah.

Mengapa Nabi Musa paling banyak disebut dalam Al-Quran?

Nabi Musa a.s. disebut 136 kali dalam Al-Quran karena kisahnya mengandung dimensi yang sangat kaya: perjuangan melawan kezaliman, pembebasan orang tertindas, hukum (Taurat), dan ujian kepemimpinan. Kisah Musa dan Firaun juga relevan universal sebagai peringatan bagi setiap penguasa zalim di setiap zaman.

Bagaimana Nabi Musa membelah laut?

Ketika Firaun dan tentaranya mengejar Bani Israel ke tepi laut dan jalan sudah buntu, Allah memerintahkan Musa memukul laut dengan tongkatnya. Laut terbelah menjadi jalur-jalur dengan dinding air (QS Asy-Syuara 26:63). Bani Israel menyeberang. Ketika Firaun mengikuti, Allah menutup kembali laut dan menenggelamkan seluruh pasukan Firaun.

Apa kaitan Nabi Ibrahim dengan Idul Adha dan sholat?

Ibrahim mendapat perintah dalam mimpi (wahyu) untuk menyembelih putranya Ismail. Ketika keduanya taat sepenuhnya, Allah menggantikan Ismail dengan seekor kibas dari surga (QS 37:107). Peristiwa ini menjadi asal-usul ibadah kurban setiap Idul Adha. Selain itu, shalawat Ibrahim yang kita baca di tasyahud akhir setiap sholat adalah warisan spiritual beliau yang hidup selamanya.