Ringkasan tentang sujud sahwi:

Makna: dua sujud untuk menambal kekeliruan dalam sholat
Kapan: lupa wajib, menambah sesuatu, atau ragu jumlah rakaat
Cara: persis seperti sujud biasa, dua kali
Waktu: sebelum atau setelah salam, tergantung mazhab
Dasar: Sahih Muslim 571, Sahih al-Bukhari 1227, Sunan Abi Dawud 1036

Sujud sahwi (Arab: sujud as-sahw) adalah dua sujud yang dilakukan ketika orang sholat melakukan kekeliruan tertentu. Bukan hukuman. Bahkan bukan permintaan maaf. Nabi ﷺ menyebutnya cara untuk "mengusik setan" (Muslim 571), karena peran setan dalam kasus ini hanyalah membuat Anda lupa. Orang beriman memperbaiki kelalaian dan melanjutkan. Dengan tenang, diam-diam, tanpa mengulang sholat dari awal.

Catatan awal: jika Anda lupa sunnah (seperti surah tertentu yang biasa dibaca, atau ucapan "Allahu Akbar" antar gerakan), tidak ada sujud sahwi. Sholat tetap sah. Sujud sahwi hanya untuk tiga kasus tertentu di bawah ini, tidak lebih. FivePrayer bisa membantu Anda tetap fokus untuk sholat itu sendiri, sehingga kelupaan makin jarang. Gratis, tanpa iklan.

Apa itu sujud sahwi?

Sahwi (Arab: sahw) artinya kelupaan, kelalaian, atau pikiran yang melayang. Sujud sahwi adalah dua sujud yang dilakukan untuk menambal kelalaian tertentu selama sholat. Penambalan ini sendiri merupakan bentuk ibadah. Bukan rasa malu yang disamarkan menjadi ritual. Itulah cara Nabi ﷺ berkata: lupa itu manusiawi, dan sholat memiliki mekanisme bawaan untuk mengatasinya.

Hadits paling jelas datang dari Ibnu Mas'ud (RA):

Nabi ﷺ sholat Dzuhur lima rakaat. Beliau ditanya, "Apakah sholat ditambah?" Beliau berkata, "Apa itu?" Mereka berkata, "Anda sholat lima rakaat." Maka beliau memutar kakinya, menghadap kiblat, lalu sujud dua kali, kemudian salam. Lalu beliau bersabda: "Aku hanya manusia. Aku lupa sebagaimana kalian lupa. Maka bila salah seorang dari kalian lupa, hendaklah ia sujud dua kali."
, Sahih Muslim 572 (riwayat mendekati 571)

Satu hadits itu sudah berisi semuanya. Nabi ﷺ sendiri lupa. Beliau tidak mengulang sholat. Beliau sujud dua kali dan salam. Sholatnya sempurna.

Kapan sujud sahwi diwajibkan: tiga sebab

Kitab fikih klasik merangkum sujud sahwi ke dalam tiga pemicu. Mengetahui tiga ini sudah cukup untuk hampir semua kasus yang akan Anda hadapi.

Sebab 1: Lupa wajib

Wajib adalah perbuatan yang diharuskan dalam sholat, yang jika ditinggalkan perlu ditambal tetapi tidak otomatis membatalkan sholat. Contoh klasik: tasyahud awal. Jika Anda berdiri untuk rakaat ketiga dalam sholat empat rakaat tanpa duduk untuk tasyahud awal, dan Anda tidak kembali (Hanafi: jika sudah berdiri penuh, jangan duduk lagi), Anda berutang sujud sahwi di akhir.

Perbuatan wajib lain yang jika dilupakan menuntut sujud sahwi:

  • Tasyahud awal (duduk setelah rakaat kedua dalam sholat 3 atau 4 rakaat).
  • Membaca Al-Fatihah dengan suara nyaring di Maghrib, Isya, Subuh, atau lirih di Dzuhur, Ashar (khususnya jika Anda tertukar tanpa sengaja).
  • Ucapan "Sami Allahu liman hamidah" atau "Rabbana wa lakal hamd" (menurut mazhab yang menggolongkannya wajib).
  • Qunut dalam Witir (Hanafi).

Sebab 2: Menambah sesuatu

Jika Anda menambah satu rakaat, satu ruku, satu sujud, atau perbuatan lain yang bukan bagian sholat, tetapi tidak membatalkan sholat dengan bicara atau makan, Anda berutang sujud sahwi.

Inilah kasus Ibnu Mas'ud di atas. Nabi ﷺ sholat Dzuhur lima rakaat. Beliau sujud dua kali setelah salam dan sholat itu sempurna. Lima rakaat dalam sholat empat rakaat biasanya tidak sah, tetapi dua sujud itu menambal penambahan karena orang yang sholat tidak sengaja melakukannya.

Sebab 3: Ragu jumlah rakaat

Kasus paling sering. Anda menyelesaikan rakaat dan tidak ingat itu rakaat kedua atau ketiga. Anda duduk dan tidak yakin apakah masih ada satu atau dua rakaat lagi. Kaidah yang diajarkan Nabi ﷺ:

Bila salah seorang ragu dalam sholatnya dan tidak tahu sudah berapa, tiga atau empat, hendaklah dia buang keraguan dan bangun di atas yang dia yakini. Lalu sujud dua kali sebelum salam.
, Sahih Muslim 571

Inilah kaidah bina ala l-yaqin, yang dijelaskan rinci di bagian berikutnya.

Bina ala l-yaqin: kaidah teknis untuk ragu

Para fuqaha merangkum kaidah keraguan dalam satu istilah Arab: al-bina ala l-yaqin, "membangun di atas yang yakin". Saat Anda ragu sudah berapa rakaat dikerjakan, ambil jumlah terkecil sebagai yang pasti. Jumlah terbesar masih meragukan. Anda bangun sholat di atas yang Anda tahu dengan pasti.

Terjemahan praktisnya:

  • Jika Anda tidak yakin apakah sudah sholat 2 atau 3 rakaat, anggap 2 dan sholat satu rakaat lagi.
  • Jika ragu apakah 3 atau 4, anggap 3 dan sholat satu rakaat lagi.
  • Jika ragu apakah 1 atau 2, anggap 1 dan sholat satu rakaat lagi.

Kemudian, sebelum salam (Hanafi: setelah salam), lakukan sujud sahwi. Dua sujud itu menambal kekeliruan apa pun yang disebabkan keraguan itu sendiri, baik Anda tidak sengaja menambah satu rakaat atau tebakan kedua Anda ternyata benar.

Catatan halus dari mazhab Hanafi: jika keraguan menimpa orang sholat untuk pertama kali, ia sebaiknya mengulang seluruh sholat (karena belum terbiasa dan kemungkinan besar benar-benar lupa). Jika keraguan adalah masalah berulang, ia menerapkan bina ala l-yaqin dan sujud sahwi. Ini membuat hukum lebih ringan bagi orang yang sering kena was-was. Tuntunan Nabi ﷺ memang dimaksudkan untuk meringankan, bukan menambah beban.

Sebelum atau setelah salam? Empat mazhab

Kumpulan hadits memuat kedua contoh: kasus di mana Nabi ﷺ sujud sahwi sebelum salam (Sahih Muslim 571, Ibnu Mas'ud) dan kasus setelah (Sahih al-Bukhari 482, Dzul Yadain). Mazhab-mazhab memecahkan perbedaan ini secara berbeda.

MazhabWaktu utamaSalam
HanafiSelalu setelah salamSalam ke kanan satu kali dulu, lalu dua sujud, tasyahud, baru salam penuh ke dua arah
MalikiSebelum salam jika karena tertinggal; setelah salam jika karena penambahanDua salam biasa; jika setelah, salam dulu lalu dua sujud lalu tasyahud dan salam lagi
Syafi'iSelalu sebelum salam, setelah tasyahud akhirTasyahud, dua sujud, duduk, salam
HanbaliBiasanya sebelum salam; setelah jika ada rakaat tambahan atau dalam kasus hadits tertentuMirip Maliki dalam praktik

Empat posisi semuanya berdasar pada teks hadits. Perbedaan datang dari cara setiap mazhab menimbang hadits dan apakah memperlakukannya sebagai alternatif atau skenario berbeda. Jika Anda mengikuti satu mazhab dalam praktik luas, ikuti mazhab itu di sini juga. Tidak ada keutamaan dalam mencampur.

Cara melakukan sujud sahwi

Mekanismenya sederhana. Dua sujud, persis seperti sujud dalam sholat biasa.

Jika sebelum salam (Syafi'i, Hanbali, Maliki untuk yang tertinggal):

  1. Selesaikan sholat sampai tasyahud akhir dan salawat al-Ibrahimiyyah.
  2. Sebelum menoleh untuk salam, ucapkan "Allahu Akbar" dan sujud.
  3. Dalam sujud: baca Subhana Rabbiyal A'la tiga kali (atau lebih).
  4. Bangun sebentar dengan takbir, lalu sujud kedua dengan bacaan sama.
  5. Duduk, salam ke kanan dan kiri.

Jika setelah salam (Hanafi, Maliki untuk penambahan):

  1. Selesaikan sholat, termasuk tasyahud akhir dan salam (Hanafi: salam ke kanan satu kali saja).
  2. Ucapkan "Allahu Akbar" dan sujud.
  3. Dalam sujud: baca Subhana Rabbiyal A'la tiga kali.
  4. Bangun sebentar dengan takbir, lalu sujud kedua dengan bacaan sama.
  5. Duduk, baca tasyahud (kebanyakan mazhab), lalu salam ke dua arah.

Tidak ada doa khusus yang unik untuk sujud sahwi. Dzikir sujud biasa sudah cukup. Sebagian ulama menganjurkan menambahkan Subhana man la yanamu wa la yas-hu ("Mahasuci Dia yang tidak tidur dan tidak lupa"), tetapi ini tidak berasal dari hadits sahih dan tidak diwajibkan.

Hal-hal yang tidak menyebabkan sujud sahwi

Kaidah penting: lupa sunnah tidak menyebabkan sujud sahwi. Sholat tetap sah penuh, dan menambah dua sujud untuk sunnah yang terlewat justru menjadi tambahan yang tidak disyariatkan. Hal-hal berikut tidak menyebabkannya:

  • Lupa doa iftitah (doa pembuka).
  • Lupa membaca surah setelah Al-Fatihah di rakaat yang surahnya sunnah.
  • Lupa mengucapkan "Amin" setelah Al-Fatihah.
  • Lupa dzikir di ruku atau sujud (dzikirnya wajib di mazhab Hanafi, tapi yang fardhu adalah gerakannya).
  • Lupa mengangkat tangan saat takbir.
  • Lupa memandang tempat sujud, atau adab lainnya.

Mazhab Hanafi sedikit berbeda: mengharuskan sujud sahwi untuk hal-hal wajib tertentu yang mazhab lain anggap sunnah. Jika Anda mengikuti praktik Hanafi dan lupa tasyahud awal atau Qunut Witir, lakukan sujud sahwi. Jika Anda Syafi'i dan lupa hal yang sama, kaidahnya sedikit berbeda.

Jika baru sadar setelah salam

Kasus klasik adalah hadits Dzul Yadain (Sahih al-Bukhari 482, Sahih Muslim 573). Nabi ﷺ sholat Dzuhur tetapi baru menyelesaikan dua rakaat sebelum salam. Seorang sahabat, Dzul Yadain, bertanya: "Apakah sholat dipendekkan, atau Anda lupa?" Nabi ﷺ bertanya pada yang lain, mereka membenarkan, lalu beliau berdiri, melengkapi dua rakaat sisanya, memberi salam, kemudian sujud dua kali dan salam lagi.

Dari sini kita belajar:

  • Berbicara sebentar di luar sholat (pertanyaan Dzul Yadain) tidak membatalkan sholat saat dilakukan dalam kelupaan tulus bahwa sholat sudah berakhir.
  • Rakaat yang tertinggal dilengkapi, sholat tidak diulang seluruhnya.
  • Dua sujud menyusul di akhir, dengan salam lagi.

Untuk kasus Anda sendiri: jika waktu yang lewat singkat (Anda belum benar-benar lepas dari keadaan sholat secara mental, belum berjalan jauh, belum mengerjakan hal yang tidak terkait), kembali, lengkapi bagian yang tertinggal, dan lakukan sujud sahwi. Jika sudah lama, pendapat praktis jumhur adalah sholat batal dan harus diulang. Mazhab Hanafi lebih ketat dan cenderung lebih sering mewajibkan pengulangan.

Bagaimana jika baru ingat berjam-jam kemudian?

Jika sudah lewat berjam-jam, sholat sudah selesai. Tidak ada gunanya melakukan sujud sahwi saat itu. Jika yang ditinggalkan adalah wajib (di mazhab Hanafi) atau rukun di mazhab mana pun, sholat harus diulang. Jika hanya sunnah, sholat sudah sah dan tidak ada yang perlu ditambal.

Tanya jawab

Apa dzikir dalam sujud sahwi?

Sama seperti sujud biasa: Subhana Rabbiyal A'la ("Mahasuci Tuhanku Yang Mahatinggi"), tiga kali. Tidak ada bacaan khusus yang diwajibkan.

Saya lupa tasyahud awal dan baru ingat saat membaca di rakaat ketiga. Bagaimana?

Jangan kembali. Selesaikan sholat dan lakukan sujud sahwi di akhir. Kembali setelah mulai rakaat berikutnya justru menjadi kekeliruan. Nabi ﷺ mengajarkan: "Jika seseorang berdiri setelah dua rakaat, sebelum duduk, hendaklah ia melanjutkan jika sudah berdiri penuh, dan sujud dua kali" (Abu Dawud 1036).

Saya ragu apakah sudah 3 atau 4 rakaat. Bagaimana?

Terapkan bina ala l-yaqin. Anggap 3 sebagai pasti. Sholat satu rakaat lagi. Sebelum salam (atau setelah, tergantung mazhab), lakukan sujud sahwi.

Bolehkah sujud sahwi jika hanya merasa was-was bahwa mungkin keliru?

Tidak. Sujud sahwi untuk kesalahan nyata yang teridentifikasi (lupa wajib, menambah, atau ragu jumlah rakaat yang sungguhan). Was-was samar berasal dari setan dan harus diabaikan. Jangan menciptakan alasan untuk menambah dua sujud.

Apakah sujud sahwi menggantikan rakaat yang terlewat?

Tidak. Jika Anda melewatkan satu rakaat penuh, rakaat itu harus disholatkan. Sujud sahwi menambal kelalaian di sekitarnya, tetapi tidak menggantikan rukun yang hilang.

Bagaimana jika imam keliru saat sholat berjamaah?

Jika imam sujud sahwi, makmum juga. Makmum tidak memulai sujud sahwi atas inisiatifnya sendiri saat berjamaah; keterhubungan dengan imam sudah menanggung kelalaian kecil mereka. Jika imam tidak sujud sahwi padahal seharusnya, makmum juga tidak (tugas makmum mengikuti imam dalam struktur sholat).

Jangan lewatkan sholat

FivePrayer: jaga sholat tetap di depan hari Anda.

Waktu sholat akurat untuk kota Anda, adzan saat tepat waktunya, dan kunci layar lembut yang membantu Anda benar-benar sholat. Gratis di iOS, Android, dan Chrome. Makin sedikit gangguan sebelum sholat, makin jarang pikiran melayang saat sholat.

Download diApp Store
Dapatkan diGoogle Play
Juga diChrome