Fakta cepat tentang adzan:
• Frekuensi: 5 kali sehari, satu untuk tiap sholat fardhu
• Panjang: sekitar 15 kalimat, ~60 sampai 90 detik diucapkan
• Asal-usul: diturunkan dalam mimpi Abdullah bin Zaid (RA), dibenarkan Nabi ﷺ di Madinah (tahun 1 atau 2 H)
• Muadzin pertama: Bilal bin Rabah (RA)
• Tambahan Subuh: "as-shalatu khairun minan-naum" (sholat lebih baik daripada tidur)
• Tujuan: mengumpulkan kaum Muslimin untuk sholat berjamaah
Sedikit suara di planet ini yang sekenal adzan. Lima kali sehari, dari menara masjid di Istanbul sampai pengeras suara di Jakarta, dari atap rumah di Kairo sampai sebuah ponsel di apartemen sunyi di Toronto, lafaz Arab yang sama membumbung ke udara. Allahu Akbar. Panggilan yang sama yang pertama kali Bilal kumandangkan dari atas Ka'bah, hampir empat belas abad kemudian, masih menarik hati ke arah kiblat. Artikel ini menceritakan bagaimana adzan diturunkan, mengupas setiap kalimat beserta maknanya, dan memberi cara sunnah menjawabnya yang Nabi ﷺ ajarkan.
Tips: FivePrayer memutar adzan di setiap waktu sholat di mana pun Anda berada, dengan kunci layar penuh yang tenang sehingga Anda benar-benar menyadarinya. Gratis, tanpa iklan, di iOS, Android, dan Chrome.
Kisah bagaimana adzan diturunkan
Pada masa awal di Madinah, setelah Nabi ﷺ membangun masjid pertama, kaum Muslimin menghadapi masalah praktis: bagaimana memanggil umat untuk sholat? Pada mulanya orang sekadar berkumpul saat melihat waktu sholat mendekat, namun jumlah umat terus bertambah dan dibutuhkan cara yang lebih dapat diandalkan.
Para sahabat berembuk. Ada yang mengusulkan membunyikan lonceng, cara Nasrani pada zaman itu berkumpul untuk ibadah mereka. Yang lain mengusulkan meniup terompet, cara orang Yahudi. Kelompok ketiga mengusulkan menyalakan api besar, cara Majusi memberi tanda perkumpulan. Nabi ﷺ menolak setiap usul itu. Lonceng, kata beliau, adalah kebiasaan Nasrani; terompet, kebiasaan Yahudi; api, kebiasaan Majusi. Kaum Muslimin membutuhkan sesuatu yang menjadi ciri khas mereka sendiri.
Perembukan itu berakhir tanpa keputusan. Malam itu, seorang sahabat bernama Abdullah bin Zaid bin Abd Rabbih (RA) tidur dengan pertanyaan itu di benaknya. Dalam mimpinya, seorang lelaki lewat membawa lonceng. Abdullah bertanya apakah ia boleh membelinya, untuk memanggil orang ke sholat. Lelaki itu menjawab: "Maukah kutunjukkan yang lebih baik dari itu?" Lalu ia mengajarkan lafaz adzan kepada Abdullah sebagaimana kita kenal hari ini, dan setelah itu lafaz iqamah.
Pagi harinya Abdullah menemui Nabi ﷺ dan menceritakan mimpinya. Nabi ﷺ membenarkan itu sebagai mimpi yang benar dari Allah, dan bersabda: "Berdirilah bersama Bilal dan ajarkan kepadanya apa yang engkau lihat, karena suaranya lebih lantang darimu." Bilal pun mengumandangkannya, dan begitu Umar bin al-Khattab (RA) mendengarnya, ia bergegas menemui Nabi ﷺ sambil berkata: "Demi Dzat yang mengutusmu dengan kebenaran, wahai Rasulullah, aku melihat persis apa yang ia lihat." Nabi ﷺ bersabda: "Segala puji bagi Allah." (Sunan Abu Dawud 498; Sahih al-Bukhari 604)
Inilah salah satu kasus langka dalam syariat Islam di mana sebuah hukum ditetapkan melalui mimpi seorang sahabat, namun baru setelah dibenarkan oleh Nabi ﷺ. Para ulama mencatat bahwa ini memberi adzan kedudukan istimewa: ia bukan sekadar suara, tetapi teks yang diwahyukan, dipilih secara ilahi mengungguli simbol setiap umat lain.
Bilal bin Rabah, muadzin pertama
Bilal bin Rabah (RA) adalah seorang budak Habasyah yang telah dimerdekakan, yang pernah menanggung siksaan keji di Makkah karena menolak meninggalkan imannya. Tuannya, Umayyah bin Khalaf, membaringkannya di atas pasir gurun yang membara dengan batu berat di dadanya sambil menuntutnya mengingkari Allah. Jawaban Bilal hanyalah satu kata: "Ahad, Ahad" (Esa, Esa). Abu Bakar (RA) akhirnya membeli kemerdekaannya.
Ketika Nabi ﷺ memilih Bilal sebagai muadzin pertama, itu bukan karena nasab atau kedudukan. Bilal tidak memiliki keduanya. Itu karena suaranya, ketulusannya, dan kedalaman imannya. Sepanjang sisa hidup Nabi ﷺ, Bilal mengumandangkan lima adzan harian di Madinah. Ketika Nabi ﷺ wafat, Bilal tidak sanggup meneruskannya, suaranya akan tercekat sebelum sampai ke akhir. Ia pindah ke Syam dan hanya mengumandangkan adzan beberapa kali lagi seumur hidupnya, sekali atas permintaan Umar di Baitul Maqdis, dan sekali ketika para cucu Nabi memintanya di Madinah, setelah itu seisi kota menangis.
Adzan Bilal dari atap Ka'bah pada hari penaklukan Makkah adalah titik balik dalam sejarah. Seorang Habasyah yang dahulu diperbudak berdiri di atas rumah tersuci di bumi dan memanggil orang menuju penyembahan kepada satu Tuhan. Itu, dalam satu momen, adalah pernyataan tentang untuk apa Islam datang.
Teks lengkap adzan
Teks di bawah ini adalah adzan standar sebagaimana diriwayatkan dari mimpi Abdullah bin Zaid (RA) dan disetujui Nabi ﷺ. Angka setelah tiap baris adalah berapa kali ia diucapkan.
| Arab | Transliterasi | Terjemahan | × |
|---|---|---|---|
| اللّهُ أَكْبَر | Allahu Akbar | Allah Maha Besar | 4 |
| أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللّه | Asyhadu an la ilaha illa Allah | Aku bersaksi tiada tuhan selain Allah | 2 |
| أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً رَسُولُ اللّه | Asyhadu anna Muhammadan rasulullah | Aku bersaksi Muhammad utusan Allah | 2 |
| حَيَّ عَلَى الصَّلَاة | Hayya 'ala s-shalah | Mari menuju sholat | 2 |
| حَيَّ عَلَى الْفَلَاح | Hayya 'alal-falah | Mari menuju kemenangan | 2 |
| اللّهُ أَكْبَر | Allahu Akbar | Allah Maha Besar | 2 |
| لَا إِلَهَ إِلَّا اللّه | La ilaha illa Allah | Tiada tuhan selain Allah | 1 |
Itu lima belas kalimat seluruhnya. Adzan dibuka dengan kebesaran Allah, beralih ke syahadat, memanggil orang untuk sholat dan menuju kemenangan, dan ditutup lagi dengan penegasan keesaan Allah. Ia, pada hakikatnya, adalah ringkasan akidah.
Lafaz tambahan dalam adzan Subuh
Khusus untuk sholat Subuh (Fajar) saja, setelah "hayya 'alal-falah" dan sebelum "Allahu Akbar" yang terakhir, muadzin menambahkan:
الصَّلَاةُ خَيْرٌ مِنَ النَّوْم
As-shalatu khairun minan-naum.
"Sholat lebih baik daripada tidur." (× 2)
Ini dikenal sebagai tatswib. Lafaz ini ditambahkan pada masa hidup Nabi ﷺ sebagai pengingat lembut, karena Subuh adalah satu-satunya sholat di mana tidur menjadi penghalang utama. Lafaznya terjaga dalam praktik Bilal (RA) dan tercatat dalam Sunan Abu Dawud 501 serta Sunan al-Nasa'i 633.
Cara menjawab muadzin
Ketika Anda mendengar adzan, sunnahnya adalah berhenti dari apa yang sedang Anda kerjakan (kecuali bila akan menimbulkan bahaya) lalu menjawab. Nabi ﷺ bersabda: "Apabila kalian mendengar muadzin, ucapkanlah seperti yang ia ucapkan." (Sahih Muslim 383)
Caranya adalah mengulangi setiap kalimat setelah muadzin, dengan satu pengecualian:
- Untuk sebagian besar kalimat, Anda mengulanginya kata per kata.
- Untuk "hayya 'ala s-shalah" dan "hayya 'alal-falah", bukannya mengulang, ucapkanlah: la haula wa la quwwata illa billah (tiada daya dan kekuatan kecuali dengan Allah). (Sahih Muslim 385)
Alasan pengecualian ini: panggilan "mari menuju sholat" dan "mari menuju kemenangan" adalah sesuatu yang tidak benar-benar bisa Anda jawab dengan kekuatan sendiri, hanya dengan pertolongan Allah, maka jawabannya mengakui pertolongan itu.
Untuk "as-shalatu khairun minan-naum" pada Subuh, sebagian ulama menganjurkan mengulanginya, sebagian lain menganjurkan menjawab dengan "shadaqta wa bararta" (engkau benar dan engkau berbuat baik). Keduanya diriwayatkan.
Doa setelah adzan
Begitu muadzin selesai, ada tiga hal yang menjadi sunnah:
1. Bershalawat kepada Nabi ﷺ. Nabi ﷺ bersabda: "Apabila kalian mendengar muadzin, ucapkanlah seperti ucapannya, lalu bershalawatlah kepadaku, karena siapa yang bershalawat sekali kepadaku, Allah akan bershalawat sepuluh kali kepadanya sebagai balasan." (Sahih Muslim 384)
2. Membaca doa setelah adzan. Diriwayatkan dalam Sahih al-Bukhari 614:
اللَّهُمَّ رَبَّ هَذِهِ الدَّعْوَةِ التَّامَّةِ وَالصَّلاَةِ الْقَائِمَةِ آتِ مُحَمَّداً الْوَسِيلَةَ وَالْفَضِيلَةَ وَابْعَثْهُ مَقَاماً مَحْمُوداً الَّذِي وَعَدْتَه
Allahumma Rabba hadzihi d-da'watit-tammah, was-shalatil-qa'imah, ati Muhammadan al-wasilata wal-fadhilah, wab'ats-hu maqaman mahmudan alladzi wa'adtah.
"Ya Allah, Tuhan panggilan yang sempurna ini dan sholat yang akan ditegakkan, berilah Muhammad wasilah dan keutamaan, dan bangkitkanlah ia ke kedudukan terpuji yang telah Engkau janjikan kepadanya."
Nabi ﷺ bersabda: "Siapa yang membaca ini setelah mendengar adzan, syafaatku halal baginya pada Hari Kiamat." (Bukhari 614)
3. Memohon hajat kepada Allah. Waktu antara adzan dan iqamah adalah saat di mana doa tidak tertolak. Nabi ﷺ bersabda: "Doa antara adzan dan iqamah tidak tertolak, maka berdoalah." (Sunan Abu Dawud 521, shahih). Duduklah tenang sejenak, bershalawat, baca doa di atas, lalu mintalah apa pun yang Anda butuhkan.
Sunnah-sunnah muadzin
Jika Anda yang mengumandangkan adzan, sunnah-sunnah yang ditetapkan adalah:
- Berada dalam keadaan wudhu. Dianjurkan, tidak diwajibkan secara ketat.
- Menghadap kiblat saat mengumandangkan.
- Berdiri di tempat tinggi (menara, atap), jika tersedia.
- Meletakkan jari telunjuk di kedua telinga. Bilal melakukannya. Ini membantu mengeraskan suara.
- Memalingkan wajah ke kanan saat "hayya 'ala s-shalah" (× 2) dan ke kiri saat "hayya 'alal-falah" (× 2), tanpa memindahkan kaki.
- Mengeraskan suara sebisa mungkin, tanpa memaksakan diri.
- Membaca dengan tenang, dengan jeda antar kalimat. Adzan tidak boleh terburu-buru seperti iqamah.
Adzan dalam situasi tidak biasa
Bayi yang baru lahir. Ketika seorang anak lahir, dianjurkan mengumandangkan adzan dengan lembut di telinga kanan dan iqamah di telinga kiri, agar kalimat pertama yang didengar anak adalah syahadat. Nabi ﷺ melakukan ini ketika cucunya al-Hasan bin Ali lahir (Sunan Abu Dawud 5105).
Bepergian dan sholat sendirian. Sekalipun Anda sendirian di tengah ketiadaan, mengumandangkan adzan dan iqamah dengan lirih sebelum sholat tetap sunnah dan mendatangkan pahala. Nabi ﷺ berkata kepada seorang penggembala: "Apabila engkau bersama kambingmu lalu engkau mengumandangkan adzan dan mengeraskan suaramu, tidaklah jin, manusia, atau apa pun mendengarnya hingga Hari Kiamat melainkan akan menjadi saksi bagimu." (Sahih al-Bukhari 609)
Kesulitan, kebakaran, atau serangan. Sebagian ulama menyebut mengumandangkan adzan sebagai cara memohon pertolongan Allah pada saat krisis, meskipun ini adalah praktik kecil dan diperselisihkan.
Pertanyaan modern: pengeras suara, rekaman, wanita
Pengeras suara. Para ulama dari keempat mazhab membolehkan penggunaan pengeras suara, karena tujuan adzan adalah agar terdengar, dan teknologi ini langsung melayani tujuan itu. Komite Tetap Arab Saudi, al-Azhar, dan ulama Hanafi modern semua membolehkannya. Sebagian komunitas setempat membatasi volume demi menghormati tetangga non-Muslim.
Adzan rekaman. Sebuah rekaman (seperti yang FivePrayer putar di rumah atau kantor Anda) bukan pengganti adzan langsung di masjid, tetapi ia adalah pengingat, alat untuk membantu Anda mengingat waktu sholat. Ia membawa lafaznya tetapi tidak membawa status hukum panggilan muadzin. Mendengarkan rekaman lalu menjawabnya tetap berpahala, karena sunnah terikat pada mendengar lafaznya.
Wanita mengumandangkan adzan. Pendapat mayoritas di seluruh mazhab adalah wanita tidak mengumandangkan adzan untuk umum, karena muadzin ditujukan bagi jamaah laki-laki di masjid. Dalam rumah tangga yang seluruhnya wanita, pandangan Hanafi dan Maliki sedikit berbeda: sebagian membolehkan adzan lirih di antara para wanita, sebagian mengatakan iqamah saja sudah cukup. Tidak ada kewajiban dalam hal ini.
Pertanyaan umum
Apa sebenarnya makna "Allahu Akbar"?
Ini bentuk perbandingan: bukan sekadar "Allah besar" tetapi "Allah lebih besar". Lebih besar dari apa pun yang akan Anda tinggalkan untuk datang sholat. Lebih besar dari ponsel, pekerjaan, kekhawatiran Anda. Adzan dibuka dengan ini karena langkah pertama sholat adalah menempatkan Allah di atas segalanya.
Apa makna "hayya 'alal-falah" tepatnya?
Secara harfiah "mari menuju falah". Falah adalah salah satu kata terdalam dalam Al-Qur'an: ia berarti kemenangan, tetapi kemenangan yang mencakup kemakmuran di dunia ini dan kemenangan tertinggi berupa surga. Panggilan ini bukan sekadar ke sebuah sholat, ia adalah panggilan menuju jalan hidup yang berakhir baik.
Mengapa adzan Syiah terdengar berbeda?
Adzan Syiah menambahkan kalimat "asyhadu anna 'Aliyyan waliyyullah" setelah syahadat. Ahlus Sunnah tidak menganggap ini bagian dari adzan asli yang diturunkan dalam mimpi Abdullah bin Zaid. Namun teks intinya tetap sama.
Apakah adzan adalah ibadah tersendiri?
Ya. Mengumandangkan adzan sangat berpahala, bahkan terpisah dari sholat yang diumumkannya. Nabi ﷺ bersabda: "Seandainya orang-orang mengetahui pahala mengumandangkan adzan dan sholat di shaf pertama, lalu tidak menemukan cara lain kecuali dengan mengundi, niscaya mereka akan mengundinya." (Sahih al-Bukhari 615)
Bolehkah adzan dalam bahasa selain Arab?
Tidak, menurut kesepakatan keempat mazhab. Adzan adalah teks ritual yang baku, seperti surat dalam sholat, dan harus dalam bahasa Arab agar sah. Terjemahan berguna untuk pemahaman, tetapi panggilannya sendiri dalam bahasa saat ia diturunkan.
FivePrayer: panggilan sholat, tepat waktu, di saku Anda.
Adzan dimaksudkan untuk didengar. FivePrayer memutarnya di setiap waktu sholat di mana pun Anda berada, dengan kunci layar penuh yang tenang sehingga Anda benar-benar menyadarinya. Delapan suara qari termasuk rekaman sunnah dari Madinah. Gratis, tanpa iklan.