Fakta singkat tentang Nabi Muhammad ﷺ:

Lahir: 570 M di Makkah, Tahun Gajah
Wafat: 12 Rabiul Awal 11 H / 632 M di Madinah
Gelar: Al-Amin (yang terpercaya), Al-Mustafa (yang terpilih)
Wahyu pertama: usia 40 tahun di Gua Hira
Hijrah: 622 M, awal kalender Hijriah
Warisan: 1,8 miliar Muslim di seluruh dunia

Allah berfirman mengenai Nabi-Nya, "Dan tidaklah Kami mengutus engkau melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam" (QS Al-Anbiya 21:107). Satu ayat ini merangkum inti dari seluruh sirah. Beliau bukan sekadar pendiri agama atau pemimpin bangsa; beliau adalah rahmat yang diutus oleh Allah kepada seluruh makhluk, melampaui batas zaman, bahasa, dan peradaban. Mempelajari sirah beliau bukan sekadar mengenal sejarah, melainkan mengenal sumber dari teladan terbaik yang pernah berjalan di muka bumi.

Kelahiran dan masa kecil

Nabi Muhammad ﷺ lahir di Makkah pada tahun 570 M, yang dikenal dalam sejarah Arab sebagai Tahun Gajah. Pada tahun itu Abrahah, gubernur Yaman yang datang dari Habasyah, memimpin pasukan bergajah untuk menghancurkan Ka'bah. Allah menghancurkan mereka dengan burung-burung Ababil yang melempari mereka dengan batu dari neraka, sebagaimana diabadikan dalam Surah Al-Fil. Kelahiran beliau di tahun penuh peristiwa itu bukan kebetulan; ia adalah tanda awal dari misi besar yang akan beliau emban.

Ayah beliau, Abdullah bin Abdul Muthalib, telah wafat sebelum beliau lahir. Ibu beliau, Aminah binti Wahb, menyusuinya sebentar sebelum menyerahkannya kepada Halimah Sa'diyah dari Bani Sa'd untuk diasuh di pedalaman Arab yang udaranya bersih. Di sana beliau tumbuh sehat dan fasih berbahasa Arab, karena udara gurun dan kehidupan Badui kala itu dipandang lebih baik bagi perkembangan anak. Ketika berusia enam tahun, ibu beliau pun wafat dalam perjalanan pulang dari Madinah setelah mengunjungi sanak saudara. Beliau menjadi yatim piatu.

Kakek beliau, Abdul Muthalib, kemudian mengasuhnya dengan penuh kasih. Namun dua tahun kemudian sang kakek pun wafat, meninggalkan beliau dalam asuhan pamannya Abu Thalib. Di bawah asuhan Abu Thalib, beliau tumbuh sebagai pemuda yang pekerja keras, jujur, dan memiliki akhlak yang menonjol di antara kaumnya. Beliau menggembala kambing dan ikut berdagang bersama pamannya, mengenal kehidupan nyata masyarakat Arab dari dalam.

Gelar Al-Amin dan pernikahan

Jauh sebelum wahyu turun, masyarakat Makkah telah mengenal Muhammad ﷺ sebagai Al-Amin, yang berarti yang terpercaya. Gelar ini bukan diberikan oleh satu orang, melainkan kesepakatan seluruh masyarakat atas kejujuran, amanah, dan integritas beliau yang tidak pernah goyah sejak kecil. Orang-orang menitipkan harta mereka kepada beliau karena tahu tidak akan dikhianati. Beliau tidak pernah berdusta meski sekali pun, dan tidak pernah melanggar janji.

Ketika berusia dua puluh lima tahun, beliau bekerja untuk seorang janda kaya dan terhormat bernama Khadijah binti Khuwailid, membawa dagangannya ke Syam. Khadijah terkesan oleh kejujuran dan akhlak beliau, kemudian melamar beliau melalui perantara. Mereka menikah, dan pernikahan ini menjadi salah satu pernikahan paling bersejarah dalam Islam. Khadijah adalah istri pertama dan satu-satunya selama dua puluh lima tahun, wanita pertama yang masuk Islam, dan pendukung terbesar beliau di saat-saat paling berat. Beliau ﷺ mencintainya dengan sangat dalam dan terus mengenangnya bahkan setelah Khadijah wafat.

Pada usia tiga puluh lima tahun, terjadi sebuah peristiwa yang menunjukkan kebijaksanaan beliau. Ketika Ka'bah direnovasi, suku-suku Quraisy bersengketa soal siapa yang berhak meletakkan Hajar Aswad kembali ke tempatnya. Hampir terjadi pertumpahan darah. Lalu seseorang mengusulkan agar keputusan diserahkan kepada orang pertama yang memasuki Ka'bah. Orang itu adalah Muhammad ﷺ. Beliau meminta sehelai kain, meletakkan batu itu di atasnya, dan meminta perwakilan tiap suku memegang ujung kain bersama-sama mengangkatnya. Beliau sendiri yang meletakkan batu itu ke posisinya. Seluruh suku puas. Inilah Al-Amin dalam tindakan nyata.

Wahyu pertama di Gua Hira

Ketika berusia empat puluh tahun, Nabi Muhammad ﷺ semakin sering menyepi ke Gua Hira di atas Jabal Nur untuk berkontemplasi. Pada suatu malam di bulan Ramadan, tepatnya malam yang kemudian dikenal sebagai Lailatul Qadar, Malaikat Jibril datang dan memeluknya erat sampai beliau merasa sesak. Jibril berkata, "Iqra!", bacalah. Beliau menjawab, "Saya tidak bisa membaca." Jibril memeluknya erat lagi, lalu melepaskannya dan kembali memerintahkan hal yang sama. Ini terjadi tiga kali. Kemudian turunlah lima ayat pertama Surah Al-Alaq: "Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan, menciptakan manusia dari segumpal darah..." (Sahih al-Bukhari 3).

Beliau pulang ke rumah dengan tubuh gemetar, meminta Khadijah menyelimutinya. Khadijah menenangkan beliau dan berkata bahwa Allah tidak akan pernah merendahkan orang yang selalu menyambung silaturahmi, menolong yang lemah, dan berbuat kebaikan. Kemudian mereka pergi menemui Waraqah bin Naufal, sepupu Khadijah yang menguasai Injil dan Taurat. Waraqah mendengarkan cerita itu dan berkata, "Ini adalah Namus yang sama yang pernah diturunkan kepada Musa. Andaikan aku masih muda dan kuat ketika kaummu mengusirmu..." Wahyu itu nyata, dan Waraqah membenarkannya.

Dakwah di Makkah

Dakwah dimulai secara rahasia selama tiga tahun pertama. Orang-orang pertama yang masuk Islam adalah Khadijah (istri beliau), Ali bin Abi Thalib (sepupu beliau yang masih kecil), Zaid bin Haritsah (budak yang dimerdekakan), dan Abu Bakar Ash-Shiddiq (sahabat karib). Abu Bakar kemudian mengajak Utsman bin Affan, Abdurrahman bin Auf, Sa'd bin Abi Waqqash, dan banyak lagi.

Ketika Allah memerintahkan dakwah terang-terangan melalui ayat "Maka sampaikanlah apa yang diperintahkan kepadamu dan berpalinglah dari orang-orang musyrik" (QS Al-Hijr 15:94), Quraisy mulai melancarkan penindasan. Para budak yang masuk Islam disiksa di bawah terik matahari Makkah. Bilal bin Rabah dipaksa berbaring di atas pasir panas dengan batu besar di dadanya namun tetap berseru, "Ahad, Ahad!" (Satu, Satu!). Abu Thalib melindungi beliau secara politis, namun tekanan terus meningkat.

Tahun ke sepuluh kenabian menjadi tahun kesedihan. Khadijah, istri tercinta dan pendukung terkuat beliau, wafat. Beberapa bulan kemudian Abu Thalib, paman pelindung beliau, juga wafat. Beliau mencoba mencari dukungan di Thaif namun dilempari batu hingga terluka. Di tengah kesedihan itu, Allah menghibur beliau dengan Isra dan Miraj, perjalanan malam dari Makkah ke Yerusalem dan naik ke langit bertemu para nabi serta menerima perintah shalat lima waktu secara langsung.

Hijrah ke Madinah

Setelah dua belas tahun dakwah di Makkah dengan penderitaan yang terus bertambah, Allah mengizinkan hijrah ke Yatsrib, yang kemudian dikenal sebagai Madinah al-Munawwarah, kota yang bercahaya. Pada tahun 622 M, Nabi ﷺ bersama Abu Bakar meninggalkan Makkah secara diam-diam pada malam hari ketika rumah beliau dikepung orang-orang yang hendak membunuh beliau. Ali bin Abi Thalib tidur di ranjang beliau untuk mengecoh para pengepung.

Perjalanan yang seharusnya memakan waktu beberapa hari menjadi lebih panjang karena mereka bersembunyi di Gua Tsur selama tiga hari. Para pengejar hampir menemukan mereka, namun Allah melindungi mereka. Ketika akhirnya tiba di Madinah, penduduk kota menyambut beliau dengan sukacita yang tak terlukiskan. Anak-anak menyanyikan lagu sambutan. Inilah hijrah, titik balik yang begitu penting sehingga menjadi awal kalender Islam.

Di Madinah, beliau membangun Masjid Nabawi sebagai pusat komunitas, mempersaudarakan kaum Muhajirin (yang berhijrah dari Makkah) dengan Anshar (penduduk Madinah yang menyambut mereka), dan membuat Piagam Madinah, perjanjian antar kelompok di kota itu yang mengatur kehidupan bersama dengan adil.

Perang-perang penting

Ancaman dari Quraisy tidak berhenti setelah hijrah. Serangkaian peperangan terjadi yang masing-masing membawa pelajaran mendalam. Perang Badar pada tahun 624 M adalah pertempuran pertama dan paling menentukan. Pasukan Muslim yang berjumlah tiga ratus tiga belas orang menghadapi seribu prajurit Quraisy yang bersenjata lengkap. Dengan pertolongan Allah, kaum Muslim menang telak. Tujuh puluh pemimpin Quraisy tewas dan tujuh puluh lainnya tertawan. Kemenangan ini meneguhkan eksistensi komunitas Muslim.

Perang Uhud pada tahun 625 M membawa ujian besar. Quraisy kembali menyerang dengan tiga ribu prajurit. Awalnya kaum Muslim unggul, namun para pemanah meninggalkan pos mereka di Bukit Uhud untuk mengambil rampasan perang, melanggar perintah Nabi ﷺ. Pasukan berkuda Khalid bin Walid (yang saat itu masih di pihak Quraisy) menyerang dari belakang. Kaum Muslim mundur dengan tujuh puluh syuhada, termasuk paman beliau Hamzah bin Abdul Muthalib. Nabi ﷺ sendiri terluka di wajah. Perang Uhud mengajarkan bahwa ketaatan kepada pemimpin adalah kunci kemenangan.

Perang Khandaq pada tahun 627 M menjadi ujian ketahanan. Sepuluh ribu prajurit dari berbagai suku Arab berkoalisi mengepung Madinah. Atas usul Salman Al-Farisi, sahabat asal Persia, digali parit besar mengelilingi Madinah, strategi yang tidak dikenal bangsa Arab saat itu. Pengepungan berlangsung hampir sebulan namun gagal menembus pertahanan. Akhirnya Allah mengirimkan angin kencang yang memorak-porandakan pasukan koalisi dan mereka mundur. Kemenangan tanpa pertumpahan darah besar ini membuktikan kecerdasan strategi Islam.

Fath Makkah

Tahun 628 M membawa Perjanjian Hudaibiyah, perjanjian gencatan senjata antara kaum Muslim dan Quraisy yang tampak merugikan kaum Muslim di permukaan namun ternyata adalah kemenangan besar. Nabi ﷺ menerimanya dengan kebijaksanaan. Allah menyebutnya "kemenangan yang nyata" (QS Al-Fath 48:1) karena memberikan waktu bagi dakwah Islam untuk tersebar tanpa gangguan perang.

Ketika Quraisy melanggar perjanjian itu pada tahun 630 M, Nabi ﷺ bergerak bersama sepuluh ribu sahabat menuju Makkah. Kota itu menyerah tanpa perlawanan berarti. Inilah Fath Makkah, pembebasan Makkah yang paling dramatik dan penuh rahmat dalam sejarah. Beliau memasuki kota yang pernah mengusir dan menyiksanya dengan kepala tunduk dalam syukur kepada Allah. Ketika Abu Sufyan, pemimpin Quraisy, bertanya apa yang akan dilakukan kepada mereka, beliau menjawab, "Pergilah, kalian bebas." Tidak ada pembantaian, tidak ada pembalasan dendam. Inilah Islam.

Beliau memasuki Ka'bah dan menghancurkan 360 berhala di dalamnya sambil membacakan ayat, "Yang hak telah datang dan yang batil telah lenyap. Sesungguhnya yang batil itu pasti lenyap" (QS Al-Isra 17:81). Kemudian beliau mengumandangkan adzan dari atas Ka'bah, dan Bilal yang dulu disiksa di Makkah kini menjadi muazin yang suaranya menggema di kota itu.

Haji Wada

Pada tahun 632 M, tahun ke sepuluh Hijriah, Nabi ﷺ melaksanakan haji untuk pertama dan terakhir kalinya bersama lebih dari seratus ribu sahabat. Haji ini dikenal sebagai Haji Wada, haji perpisahan, karena beberapa bulan setelahnya beliau wafat.

Di Padang Arafah pada hari Arafah, beliau menyampaikan Khutbah Wada yang menjadi salah satu pidato paling bersejarah sepanjang masa. Di antara isinya: "Wahai manusia, sesungguhnya darahmu, hartamu, dan kehormatanmu adalah suci bagimu seperti kesucian hari ini, bulan ini, dan negeri ini." Beliau menegaskan larangan riba, kewajiban menunaikan amanah, dan hak-hak perempuan yang harus dijaga. Beliau bersabda, "Aku tinggalkan padamu dua hal yang jika kamu berpegang teguh pada keduanya tidak akan sesat selama-lamanya: Kitab Allah dan Sunnahku."

Beliau menutup khutbah dengan bertanya kepada lautan manusia yang memadati Arafah, "Apakah aku telah menyampaikan?" Suara mereka menjawab bersama, "Ya!" Beliau mengangkat jarinya ke langit dan berkata, "Ya Allah, saksikanlah." Kemudian turunlah ayat yang menyempurnakan agama ini: "Pada hari ini telah Kusempurnakan agamamu untukmu, dan telah Kucukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Kuridai Islam sebagai agamamu" (QS Al-Maidah 5:3).

Wafat dan warisan

Beberapa bulan setelah kembali dari Haji Wada, Nabi ﷺ jatuh sakit dengan demam yang tinggi. Selama sakit itu beliau tetap memimpin sahabat dalam persiapan misi ke utara di bawah pimpinan Usamah bin Zaid. Kondisi beliau memburuk hingga Abu Bakar yang menggantikan beliau mengimami shalat jamaah.

Pada tanggal 12 Rabiul Awal tahun 11 Hijriah, bertepatan dengan 8 Juni 632 M, Nabi Muhammad ﷺ wafat di pangkuan Aisyah (RA) di kamar yang berdampingan langsung dengan Masjid Nabawi. Kata-kata terakhir yang terdengar dari lisan beliau adalah, "Ar-Rafiq al-A'la", menuju Kawan Yang Maha Tinggi. Para sahabat terguncang. Umar bin Khattab sempat berkata tidak percaya bahwa beliau wafat hingga Abu Bakar menenangkan semua orang dengan berkata, "Barangsiapa menyembah Muhammad, maka Muhammad telah wafat. Barangsiapa menyembah Allah, maka Allah Maha Hidup tidak pernah mati."

Beliau dimakamkan di tempat beliau wafat, yang kini menjadi bagian dari Masjid Nabawi di Madinah, tempat yang dikunjungi jutaan Muslim dari seluruh dunia setiap tahunnya.

Akhlak dan teladan

Allah berfirman, "Sungguh telah ada pada diri Rasulullah suri teladan yang baik bagi orang yang mengharap rahmat Allah dan kedatangan hari kiamat dan banyak mengingat Allah" (QS Al-Ahzab 33:21). Ketika Aisyah (RA) ditanya tentang akhlak Nabi ﷺ, beliau menjawab, "Akhlaknya adalah Al-Quran." Beliau adalah Al-Quran yang berjalan.

Para sahabat yang hidup bersama beliau bertahun-tahun tidak pernah mendapati beliau marah untuk urusan pribadi. Beliau tidak pernah membalas kejahatan dengan kejahatan, melainkan dengan memaafkan. Beliau membantu pekerjaan rumah tangga. Beliau bermain bersama anak-anak. Beliau mengunjungi orang sakit. Beliau memberi makan orang miskin. Beliau berkata lembut kepada budak sekalipun. Anasbin Malik (RA) berkhidmat kepada beliau selama sepuluh tahun dan bersaksi bahwa beliau tidak pernah sekalipun berkata "hus" atau "mengapa kamu lakukan itu" atau "mengapa kamu tidak melakukan itu." (Sahih al-Bukhari 3548).

Beliau adalah teladan yang sempurna bukan hanya dalam ibadah, tetapi dalam setiap dimensi kehidupan manusia: sebagai suami, ayah, pemimpin, pedagang, panglima, guru, dan tetangga. Inilah mengapa mempelajari sirah beliau adalah kewajiban moral bagi setiap Muslim, bukan sekadar pengetahuan sejarah.

Catatan: mempelajari sirah Nabi ﷺ adalah salah satu cara terbaik memperkuat iman dan menghidupkan kembali kecintaan kepada beliau. FivePrayer membantu Anda menjaga shalat lima waktu, warisan terbesar yang beliau tinggalkan, tepat waktu setiap hari.

Tanya Jawab

Di mana dan kapan Nabi Muhammad ﷺ lahir?

Nabi Muhammad ﷺ lahir di Makkah pada tahun 570 M, yang dikenal sebagai Tahun Gajah. Ayahnya Abdullah telah wafat sebelum beliau lahir, dan ibunya Aminah wafat ketika beliau berusia enam tahun. Beliau kemudian diasuh oleh kakek beliau Abdul Muthalib, lalu oleh pamannya Abu Thalib.

Mengapa Nabi Muhammad ﷺ diberi gelar Al-Amin?

Gelar Al-Amin, yang terpercaya, diberikan oleh masyarakat Makkah karena kejujuran dan amanah beliau yang tidak pernah goyah sejak kecil hingga dewasa. Bahkan musuh-musuh beliau setelah kenabian tetap menitipkan harta kepada beliau, membuktikan betapa dalam kepercayaan itu tertanam.

Apa yang terjadi pada wahyu pertama di Gua Hira?

Pada usia 40 tahun, Malaikat Jibril datang kepada beliau di Gua Hira dan memerintahkan "Iqra!" tiga kali. Turunlah lima ayat pertama Surah Al-Alaq. Beliau pulang gemetar dan Khadijah menenangkannya. Waraqah bin Naufal membenarkan bahwa itu adalah wahyu yang sama seperti yang diturunkan kepada Musa.

Apa makna hijrah tahun 622 M?

Hijrah adalah perpindahan dari Makkah ke Madinah yang menjadi titik balik utama sejarah Islam. Di Madinah beliau membangun komunitas Muslim pertama yang terorganisir, dan peristiwa ini begitu penting sehingga menjadi awal kalender Hijriah yang digunakan hingga hari ini.

Apa pesan terakhir Nabi ﷺ dalam Haji Wada?

Dalam Haji Wada, beliau menyampaikan bahwa darah, harta, dan kehormatan setiap Muslim adalah suci. Beliau menekankan larangan riba, hak-hak perempuan, dan kewajiban berpegang pada Al-Quran dan Sunnah. Beliau menutupnya dengan meminta Allah menyaksikan bahwa beliau telah menyampaikan amanah.

Jaga warisan Nabi ﷺ

FivePrayer: shalat tepat waktu, setiap hari, di mana saja.

Nabi ﷺ mendirikan shalat lima waktu sebagai tiang agama. FivePrayer membantu Anda menjaganya dengan jadwal shalat akurat sesuai lokasi Anda, suara adzan yang tenang, dan pengingat yang lembut. Gratis di iOS, Android, dan Chrome. Tanpa iklan, tanpa akun.

Unduh diApp Store
Dapatkan diGoogle Play
Juga diChrome