Fakta cepat Idul Adha 2026:

Idul Adha 2026: sekitar 6 Juni (10 Dzulhijjah 1447H)
Takbir tasyrik mulai: Subuh 9 Dzulhijjah (5 Juni) s.d. Asar 13 Dzulhijjah (9 Juni)
Makan: SETELAH sholat Id, beda dengan Idul Fitri yang makan sebelum
Sholat Id: 2 rakaat, 7 takbir di rakaat pertama, 5 takbir di rakaat kedua
Dianjurkan: mandi (ghusl) sebelum berangkat sholat
Pulang: lewat jalan berbeda dari yang ditempuh saat berangkat (HR. Bukhari 986)

Idul Adha bukan sekadar hari libur. Ia adalah puncak dari sepuluh hari terbaik dalam setahun, hari-hari Dzulhijjah yang di dalamnya terdapat Hari Arafah, wukuf jutaan jamaah haji, dan penyembelihan qurban. Bagi Muslim yang tidak berhaji sekalipun, ada serangkaian sunnah yang bisa mengisi hari-hari ini dengan ibadah bermakna. Panduan ini merangkum semuanya dari takbir tasyrik, tata cara sholat Id, hingga amalan di hari-hari tasyrik, semua berdasarkan dalil yang shahih.

Apa yang membedakan Idul Adha dengan Idul Fitri?

Keduanya adalah hari raya Islam, keduanya dirayakan dengan sholat Id, dan keduanya hari larangan berpuasa. Namun Idul Adha memiliki bobot tersendiri. Ia berpijak pada puncak ritual Islam: Hari Arafah adalah hari wukuf, hari terbesar dalam ibadah haji yang disebut Nabi ﷺ sebagai al-hajju 'Arafah, haji itu (intinya) adalah Arafah. Idul Adha pun kadang disebut "Hari Raya Besar" (Idul Kabir) karena kaitan eratnya dengan haji, qurban, dan kepasrahan Ibrahim AS.

Salah satu perbedaan paling praktis yang sering tertukar adalah soal makan. Untuk Idul Fitri, sunnah yang kuat adalah makan beberapa kurma sebelum berangkat sholat Id. Untuk Idul Adha, kebalikannya: Nabi ﷺ tidak makan hingga selesai sholat dan menyembelih hewan qurban. Makanan pertama di Idul Adha sebaiknya dari daging qurban sendiri.

"Nabi ﷺ tidak keluar pada hari Idul Adha sampai beliau sholat, dan tidak makan hingga beliau kembali. Beliau makan dari hewan sembelihannya."

(HR. Bukhari 985, dari Buraidah RA)

Perbedaan kecil ini mengandung makna simbolis yang dalam: di Idul Fitri, kita merayakan selesainya puasa dengan makan sebelum sholat. Di Idul Adha, kita mendahulukan ibadah qurban atas kesenangan makan, sebuah pesan tentang prioritas yang serupa dengan kisah Ibrahim AS.

Takbir tasyrik: lafaz, waktu, dan hukum

Takbir tasyrik adalah takbir yang dibaca setelah setiap sholat fardhu selama lima hari berturut-turut, dimulai dari sholat Subuh pada tanggal 9 Dzulhijjah (Hari Arafah) hingga sholat Asar pada tanggal 13 Dzulhijjah. Dihitung dari jumlah sholat fardhu yang tercakup, takbir ini dibaca sebanyak 23 kali, setelah 23 sholat wajib selama rentang tersebut.

Lafaz takbir tasyrik yang disepakati para ulama adalah:

اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

"Allahu Akbar, Allahu Akbar, La ilaha illallah, Allahu Akbar, Allahu Akbar wa lil-lahil hamd."

Artinya: "Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, tiada tuhan selain Allah, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, dan segala puji bagi Allah."

Sebagian ulama mengikuti versi yang lebih panjang dengan tambahan pujian seperti "subhanallah bukratan wa asila, la ilaha illallahu wahdah, shadaqa wa'dah, wa nashara abdah, wa a'azza jundah, wa hazamal ahzaba wahdah, la ilaha illallah, wa la na'budu illa iyyah..." Ini adalah versi yang diriwayatkan dari sebagian sahabat dan dapat dibaca sebagai tambahan.

Perihal hukumnya, para ulama berbeda pendapat. Mazhab Hanafi berpandangan takbir tasyrik adalah wajib, ditinggalkan berarti berdosa. Sementara mazhab Syafi'i, Maliki, dan Hanbali menghukuminya sebagai sunnah muakkadah (sangat dianjurkan). Perbedaan ini tidak perlu membingungkan: semua mazhab sepakat takbir ini sangat dianjurkan dan tidak patut ditinggalkan tanpa alasan.

Tata cara membacanya: laki-laki membaca dengan suara keras, sebagai syiar Islam di hari-hari tersebut. Perempuan membaca dengan suara lirih. Landasan syariatnya ada pada firman Allah:

"...dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari-hari yang telah ditentukan..."

(QS. Al-Hajj 22:28)

Ibnu Abbas RA dan Umar RA diriwayatkan membaca takbir dengan keras di tenda-tenda mereka di Mina, hingga orang-orang di masjid pun ikut bertakbir. Suasana hari-hari itu seharusnya dipenuhi gema takbir.

Sunnah pagi hari Idul Adha

Pagi hari Idul Adha memiliki serangkaian sunnah yang sebaiknya dilakukan sebelum berangkat ke lapangan sholat. Beberapa di antaranya sama dengan Idul Fitri, namun ada satu perbedaan penting yang sering dilupakan.

Mandi (ghusl). Mandi sebelum sholat Id adalah sunnah yang diriwayatkan dari para sahabat. Ibnu Umar RA dan Ali RA keduanya diriwayatkan mandi sebelum berangkat ke sholat Id. Ini bukan mandi wajib, tapi sunnah yang sangat dianjurkan sebagai bentuk kebersihan dan kemuliaan di hari raya.

Berpakaian terbaik dan memakai wewangian. Pakailah pakaian paling bagus yang dimiliki. Untuk laki-laki, memakai wewangian sebelum berangkat adalah sunnah. Ini adalah hari di mana kaum Muslim menampilkan syiar Islam secara kolektif.

Tidak makan sebelum sholat. Ini adalah perbedaan paling menonjol dari Idul Fitri. Di Idul Adha, tahan diri dari makan hingga sholat dan penyembelihan qurban selesai. Makanan pertama sebaiknya dari daging qurban (HR. Bukhari 985).

Berjalan kaki ke lapangan jika mampu. Berjalan kaki ke tempat sholat Id adalah sunnah, mendekatkan diri pada kekhusyukan dan sekaligus membuat langkah-langkah menuju sholat bernilai ibadah.

Baca takbir dalam perjalanan. Sepanjang perjalanan ke lapangan, perbanyaklah takbir. Ini bukan sekadar mengisi waktu, ia adalah bagian dari syiar hari raya yang Allah sebutkan dalam Al-Qur'an (QS. Al-Hajj 22:28).

Pulang lewat jalan yang berbeda. Nabi ﷺ biasa pergi ke sholat Id melalui satu jalan dan pulang melalui jalan yang berbeda. Para ulama menyebutkan beberapa hikmahnya: agar kedua jalan itu bisa bersaksi di hari kiamat, agar lebih banyak orang mengenal Beliau, dan agar syiar hari raya menyebar ke lebih banyak tempat.

"Nabi ﷺ biasa pergi (ke sholat Id) melalui satu jalan dan kembali melalui jalan yang lain."

(HR. Bukhari 986)

Tata cara sholat Idul Adha

Sholat Idul Adha memiliki teknik yang sedikit berbeda dari sholat fardhu biasa, terutama pada jumlah takbir. Para ulama berbeda pendapat tentang hukumnya: mazhab Syafi'i dan Maliki menghukuminya fardhu kifayah (kewajiban kolektif yang gugur jika sudah ada yang melaksanakan), mazhab Hanafi menghukuminya wajib 'ain (wajib bagi setiap orang), dan mazhab Hanbali menghukuminya fardhu 'ain.

Soal tempat, Nabi ﷺ menetapkan bahwa sholat Id sebaiknya dilaksanakan di lapangan terbuka atau mushalla, bukan di dalam masjid, ketika cuaca memungkinkan.

"Nabi ﷺ keluar pada hari Idul Fitri dan Idul Adha ke tempat sholat terbuka (mushalla)."

(HR. Bukhari 956)

Waktu sholat Id dimulai setelah matahari terbit setinggi tombak (sekitar 15–20 menit setelah terbit) hingga masuk waktu Zuhur. Datanglah lebih awal untuk mendapat tempat dan mengisi waktu dengan takbir.

Tata cara sholatnya:

Sholat Id terdiri dari dua rakaat. Tidak ada azan dan iqamah, imam cukup menyerukan "as-shalatu jami'ah" atau langsung memulai sholat. Di sinilah letak keunikannya dibandingkan sholat biasa:

Pada rakaat pertama, setelah takbiratul ihram (Allahu Akbar pembuka), imam membaca takbir tambahan sebanyak tujuh kali sebelum memulai Al-Fatihah. Di antara setiap takbir boleh mengangkat tangan, dan dianjurkan membaca "subhanallah walhamdulillah wa la ilaha illallah wallahu akbar" secara lirih di antara takbir-takbir tersebut. Setelah tujuh takbir, barulah imam membaca Al-Fatihah dan surat (disunnahkan Surat Al-A'la atau Surat Qaf), lalu ruku, sujud seperti biasa.

Pada rakaat kedua, setelah takbir berdiri dari sujud (takbir intiqal untuk berdiri ke rakaat kedua), imam membaca takbir tambahan sebanyak lima kali sebelum membaca Al-Fatihah. Kemudian Al-Fatihah, surat (disunnahkan Surat Al-Ghasyiyah atau Surat Al-Qamar), ruku, sujud, dan salam.

Setelah sholat selesai, imam menyampaikan dua khutbah. Inilah perbedaan mendasar dari sholat Jumat: untuk Jumat, khutbah disampaikan sebelum sholat; untuk Id, khutbah disampaikan setelah sholat. Menghadiri khutbah Id adalah sunnah, bukan kewajiban seperti Jumat, jamaah boleh pulang setelah sholat, meski mendengarkan khutbah sangat dianjurkan.

Mengenai keikutsertaan perempuan, Nabi ﷺ secara eksplisit memerintahkan agar perempuan pun hadir di sholat Id, termasuk mereka yang sedang dalam kondisi haid, mereka tidak sholat, namun tetap menyaksikan dan merasakan kegembiraan hari raya.

"Nabi ﷺ memerintahkan kami untuk membawa keluar para gadis remaja, perempuan yang dipingit, dan perempuan haid ke tempat sholat Id, agar mereka turut menyaksikan kebaikan dan doa kaum Muslim. Adapun yang sedang haid, mereka menjauh dari tempat sholat."

(HR. Bukhari 971, dari Ummu 'Athiyyah RA)

Ucapan selamat dan suasana lebaran

Mengucapkan selamat kepada sesama Muslim di hari raya adalah sunnah yang diriwayatkan dari para sahabat. Ucapan yang paling shahih riwayatnya adalah:

"Taqabbalallahu minna wa minkum", "Semoga Allah menerima amal ibadah kita dan kalian."

Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Bari menyebutkan bahwa para sahabat saling mengucapkan kalimat ini di hari raya. Kadang ditambah dengan "wa minkum taqabbal ya kariim", ucapan balasan yang bermakna sama. Ucapan informal seperti "Selamat Idul Adha", "Eid Mubarak", atau "Eid Sa'id" juga diterima oleh para ulama selama tidak mengandung sesuatu yang dilarang.

Suasana hari raya dalam Islam adalah sukacita yang diiringi ibadah, bukan kesenangan yang kosong dari makna. Bertemu keluarga, bersilaturahmi, menikmati hidangan bersama, dan berbagi daging qurban kepada yang membutuhkan, semuanya adalah bagian dari ruh Idul Adha yang ingin dihidupkan.

Hari-hari tasyrik (11, 12, 13 Dzulhijjah)

Setelah Idul Adha (10 Dzulhijjah), datanglah tiga hari yang disebut ayyamut tasyrik, hari-hari tasyrik. Nabi ﷺ mendefinisikan hari-hari ini dengan sangat jelas:

"Hari-hari tasyrik adalah hari-hari makan, minum, dan berdzikir kepada Allah."

(HR. Muslim 1141)

Ada beberapa hal penting yang perlu diketahui tentang hari-hari ini. Puasa dilarang selama tiga hari tasyrik (HR. Bukhari 1997), ini adalah hari kegembiraan dan makan. Takbir tasyrik terus dibaca setelah setiap sholat fardhu hingga Asar tanggal 13 Dzulhijjah. Bagi yang belum melaksanakan penyembelihan qurban di tanggal 10, qurban masih boleh dilakukan pada tanggal 11, 12, atau 13 Dzulhijjah.

Bagi jamaah haji, hari-hari tasyrik adalah hari-hari bermalam di Mina dan melempar jumrah, bagian dari manasik haji yang paling padat. Bagi Muslim yang tidak berhaji, hari-hari ini adalah kesempatan untuk melanjutkan momentum ibadah dari Idul Adha: silaturahmi, berbagi daging qurban kepada tetangga dan fakir miskin, memperbanyak dzikir, dan bersyukur atas nikmat yang Allah berikan.

Hari-hari tasyrik berakhir dengan sholat Asar tanggal 13 Dzulhijjah, itulah takbir tasyrik yang terakhir. Setelahnya, musim haji dan qurban resmi berakhir hingga tahun berikutnya.

Pastikan tidak melewatkan sholat Id. FivePrayer menampilkan jadwal sholat lima waktu secara akurat berdasarkan lokasi Anda, termasuk notifikasi untuk waktu sholat Idul Adha. Aktifkan notifikasi agar tidak terlewat sholat di pagi hari raya. Gratis untuk iOS, Android, dan Chrome.

Pertanyaan umum

Bagaimana jika tidak bisa menghadiri sholat Id?

Jika melewatkan sholat berjamaah karena uzur, sakit, perjalanan jauh, atau keadaan darurat, sebagian ulama membolehkan sholat Id secara sendiri. Dalam kondisi normal, berjamaah di lapangan sangat diutamakan karena itulah cara Nabi ﷺ melakukannya. Jika sholat Id terlewat tanpa uzur, tidak ada qadha untuk sholat Id.

Berapa lama sebelumnya harus sampai di lapangan?

Nabi ﷺ berangkat pagi dan tiba sebelum matahari terbit dengan sempurna. Datang lebih awal memberikan waktu untuk mendapatkan tempat yang baik, memperbanyak takbir sebelum sholat dimulai, dan menyiapkan diri secara mental dan spiritual. Ini adalah sunnah yang dianjurkan, bukan kewajiban.

Bolehkah sholat Id di masjid bukan di lapangan?

Boleh, dan ini yang umum dilakukan di banyak tempat. Namun sunnahnya adalah sholat di lapangan terbuka (mushalla) ketika memungkinkan, itulah yang Nabi ﷺ lakukan dan utamakan (HR. Bukhari 956). Jika ada uzur seperti hujan, panas terik yang membahayakan, atau keterbatasan tempat, sholat di masjid sama sekali tidak bermasalah.

Bolehkah puasa di hari Idul Adha?

Tidak, puasa di hari Idul Adha hukumnya haram berdasarkan HR. Bukhari 1993. Hari Idul Adha adalah hari makan dan minum, bukan puasa. Yang dianjurkan justru adalah berpuasa di Hari Arafah (9 Dzulhijjah) bagi yang tidak berhaji, namun begitu masuk 10 Dzulhijjah, puasa dilarang.

Apa bedanya sholat Id dengan sholat Jumat dari segi format?

Keduanya terdiri dari dua rakaat dan diikuti khutbah. Perbedaannya: sholat Id memiliki takbir tambahan (7 di rakaat pertama, 5 di rakaat kedua) yang tidak ada di sholat Jumat. Khutbah di sholat Id disampaikan setelah sholat, sementara di Jumat sebelum sholat. Dan yang sangat berbeda: menghadiri khutbah Jumat adalah kewajiban (wajib), sedangkan mendengarkan khutbah Id adalah sunnah, boleh pulang lebih awal jika ada keperluan.

Sholat Id tepat waktu dengan FivePrayer

Jadwal sholat akurat dan notifikasi hari raya.

FivePrayer menampilkan jadwal sholat lima waktu berdasarkan lokasi Anda, termasuk notifikasi sholat Idul Adha agar tidak terlewat di pagi hari raya. Gratis, tanpa iklan, tanpa akun. Tersedia di iOS, Android, dan Chrome.

Unduh diApp Store
Dapatkan diGoogle Play
Juga diChrome