Fakta cepat, 10 Hari Pertama Dzulhijjah:
• Status: hari-hari terbaik untuk beramal dalam setahun (bukan 10 malam terakhir Ramadan untuk amal sholeh secara umum)
• Dalil utama: HR. Bukhari 969, Ibnu Abbas RA meriwayatkan sabda Nabi ﷺ
• 2026: sekitar 28 Mei – 6 Juni (1–10 Dzulhijjah 1447H)
• Hari Arafah: 9 Dzulhijjah ≈ 5 Juni 2026
• Idul Adha: 10 Dzulhijjah ≈ 6 Juni 2026
Setiap tahun, ada jendela waktu singkat yang Allah jadikan paling berharga di antara semua hari dalam setahun. Bukan di bulan Rajab, bukan di pertengahan Sya'ban, dan bukan pula di hari-hari biasa Ramadan, melainkan 10 hari pertama bulan Dzulhijjah. Sepuluh hari inilah yang Allah sumpahi di awal Surat Al-Fajr, yang menjadi panggung bagi tiga ibadah besar Islam sekaligus: Haji, Hari Arafah, dan Idul Adha. Memahami keutamaannya dan menyiapkan amalan terbaik adalah investasi rohani yang tidak ternilai.
Mengapa 10 hari ini lebih istimewa dari hari lain?
Allah berfirman di awal Surat Al-Fajr:
وَالْفَجْرِ وَلَيَالٍ عَشْرٍ
"Demi fajar, dan malam yang sepuluh." (QS. Al-Fajr 89:1–2)
Ibnu Abbas RA, Ibnu Katsir, dan mayoritas ulama tafsir berpendapat tegas bahwa "malam yang sepuluh" dalam ayat ini merujuk pada sepuluh malam pertama Dzulhijjah. Allah bersumpah dengan hari-hari ini, dan dalam Al-Qur'an, Allah tidak bersumpah kecuali atas sesuatu yang agung dan mulia nilainya.
Tapi bukti paling kuat datang langsung dari lisan Nabi ﷺ. Ibnu Abbas RA meriwayatkan:
"Tidak ada hari-hari di mana amal sholeh lebih dicintai Allah daripada hari-hari ini (10 hari pertama Dzulhijjah)." Para sahabat bertanya: "Tidak juga jihad di jalan Allah?" Beliau menjawab: "Tidak juga jihad di jalan Allah, kecuali seseorang yang keluar dengan jiwa dan hartanya kemudian tidak kembali sedikitpun (yakni mati syahid)."
(HR. Bukhari 969)
Cermati betapa luar biasanya hadits ini. Jihad, yang dalam konteks tertentu dianggap sebagai puncak amal Islam, pun dikalahkan oleh amal sholeh di 10 hari ini. Pengecualian hanya satu: orang yang benar-benar mengorbankan jiwa dan hartanya sepenuhnya hingga tak tersisa apapun. Di luar itu, amal di 10 hari Dzulhijjah lebih dicintai Allah dari amal kapan pun juga.
Mengapa bisa begitu? Para ulama menjelaskan bahwa 10 hari ini adalah pertemuan unik antara tiga pilar Islam sekaligus, Haji (yang berlangsung di hari-hari ini), Idul Adha (yang menutupnya), dan Hari Arafah (puncak spiritual yang ada di dalamnya). Tidak ada rentang waktu lain dalam setahun yang menjadi panggung ibadah sebesar ini. Berkumpulnya waktu yang berkah dengan ibadah yang agung inilah yang melipat gandakan nilai setiap amal.
Amalan yang dianjurkan selama 10 hari ini
1. Perbanyak amal sholeh secara umum
Prinsip pertama dan terpenting: HR. Bukhari 969 berlaku untuk semua amalan, bukan hanya amalan tertentu. Artinya, sholat lebih berharga, membaca Al-Qur'an lebih berharga, sedekah lebih berharga, silaturahmi lebih berharga, semua amalan mengalami "kenaikan nilai" di hari-hari ini. Tidak ada alasan untuk menunggu amalan khusus sambil melewatkan amal-amal rutin yang sudah biasa dilakukan.
Manfaatkan setiap sholat fardhu dengan khusyuk penuh. Jika biasanya membaca beberapa ayat Al-Qur'an sehari, tingkatkan. Jika ada orang yang perlu dihubungi atau dibantu, lakukan sekarang. Setiap kebaikan yang dilakukan di hari-hari ini mendapat timbangan yang lebih berat di sisi Allah.
2. Puasa: terutama Hari Arafah
Puasa adalah salah satu amalan paling dianjurkan di 10 hari ini. Terdapat riwayat bahwa Nabi ﷺ biasa berpuasa pada sembilan hari pertama Dzulhijjah, dan beberapa hadits, termasuk yang diriwayatkan Abu Dawud (2437), menyebut anjuran puasa di hari-hari ini, meskipun para ulama berbeda pendapat tentang kekuatan sanadnya.
Yang tidak ada perbedaan pendapat adalah keutamaan luar biasa puasa hari ke-9, yaitu Hari Arafah. Nabi ﷺ bersabda:
"Puasa hari Arafah, aku berharap kepada Allah agar menghapuskan (dosa) setahun yang lalu dan setahun yang akan datang."
(HR. Muslim 1162)
Tidak ada puasa sunnah lain yang memiliki keutamaan penghapusan dosa dua tahun sekaligus. Maka jika pun seseorang hanya mampu berpuasa satu hari saja dari 10 hari ini, pilihlah Hari Arafah, 9 Dzulhijjah, sekitar 5 Juni 2026.
3. Dzikir, Takbir, Tahlil, dan Tahmid
Allah menyebutkan hari-hari Dzulhijjah sebagai "hari-hari yang telah diketahui" (QS. Al-Hajj 22:28) dan memerintahkan agar Allah banyak disebutkan namanya di hari-hari tersebut. Nabi ﷺ sendiri menganjurkan memperbanyak tahlil, tahmid, tasbih, dan takbir di hari-hari ini (Musnad Ahmad 6154).
Bacaan takbir yang biasa dibaca adalah:
اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ
Allahu Akbar, Allahu Akbar, La ilaha illallah, Allahu Akbar, Allahu Akbar walillahil hamd.
"Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, tidak ada Tuhan selain Allah, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, dan segala puji hanya bagi Allah."
Ibnu Umar dan Abu Hurairah RA keluar ke pasar di hari-hari Dzulhijjah sambil mengucapkan takbir, dan orang-orang pun ikut bertakbir bersama mereka. Sunnah ini nyaris terlupakan di zaman kita, tidak ada salahnya kita hidupkan kembali dengan bertakbir di rumah, dalam perjalanan, atau di media sosial. Perbanyak juga tasbih (subhanallah), tahmid (alhamdulillah), dan tahlil (la ilaha illallah).
4. Taubat dan istighfar yang tulus
Hari-hari terbaik adalah saat terbaik untuk kembali kepada Allah. Inilah waktunya bertaubat nasuha, yaitu taubat yang tulus dengan penyesalan, berhenti dari dosa, dan tekad tidak mengulangi. Allah Maha Menerima taubat, dan pintu taubat dibuka seluas-luasnya, apalagi di waktu-waktu yang dimuliakan-Nya.
5. Bersedekah
Sedekah termasuk amal sholeh yang keutamaannya berlipat ganda di hari-hari ini. Carilah mustahik yang layak menerima, atau salurkan melalui lembaga terpercaya. Bahkan sedekah dalam jumlah kecil yang dilakukan dengan ikhlas di hari-hari Dzulhijjah nilainya lebih besar dari sedekah besar di hari biasa.
6. Niat berqurban dan menjaga diri dari memotong rambut/kuku
Bagi yang berniat berqurban, ada amalan khusus yang dimulai sejak 1 Dzulhijjah: tidak memotong rambut, kuku, atau kulit hingga selesai menyembelih. Ini akan dibahas secara khusus di bagian tersendiri.
Hari ke-9: Hari Arafah: Puncak Spiritual Dzulhijjah
Di antara 10 hari yang istimewa, hari ke-9 adalah mahkota semuanya. Ini adalah Hari Arafah, hari ketika jutaan jemaah haji berkumpul di Padang Arafah memohon ampunan Allah, dan hari ketika turun ayat yang menandai kesempurnaan Islam.
Allah berfirman:
الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا
"Pada hari ini telah Kusempurnakan agamamu untukmu, dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridhai Islam sebagai agamamu." (QS. Al-Ma'idah 5:3)
Ayat penutup ini diturunkan pada Hari Arafah, Haji Wada'. Ketika Umar bin Khattab RA mendengarnya, ia menangis, karena kesempurnaan agama berarti sebentar lagi Nabi ﷺ akan dipanggil Allah. Hari itu adalah puncak risalah Islam.
Bagi yang tidak berhaji, amalan terpenting di Hari Arafah adalah puasa (sebagaimana dibahas di atas) dan memperbanyak doa. Nabi ﷺ bersabda bahwa doa terbaik yang beliau dan para nabi sebelumnya ucapkan di Hari Arafah adalah:
لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
La ilaha illallah, wahdahu la syarika lahu, lahul mulku walahul hamdu wa huwa 'ala kulli syai-in qadir.
"Tidak ada Tuhan selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya kerajaan dan bagi-Nya segala puji, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu." (HR. Tirmidzi 3585)
Perbanyaklah doa ini di sepanjang Hari Arafah, khususnya di waktu-waktu mustajab: setelah sholat fardhu, menjelang berbuka (jika berpuasa), dan saat antara Ashar dan Maghrib.
Hari ke-10: Idul Adha
Tanggal 10 Dzulhijjah adalah Idul Adha, hari raya terbesar dalam Islam. Pada hari ini, sholat Id dilaksanakan, penyembelihan qurban dilakukan, dan umat Islam merayakan kesempurnaan ibadah Haji bersama saudara-saudaranya di seluruh penjuru dunia.
Amalan di Hari Raya Idul Adha meliputi: mandi dan berhias sebelum sholat Id, memakai pakaian terbaik, bertakbir sepanjang perjalanan menuju masjid, melaksanakan sholat Id berjamaah, mendengarkan khutbah, menyembelih qurban (bagi yang mampu), berbagi daging qurban dengan fakir miskin, dan mempererat silaturahmi dengan keluarga. Untuk panduan lengkap sunnah di hari raya ini, silakan baca artikel kami tentang sunnah Idul Adha dan tata cara takbir.
Yang tidak boleh dilakukan bagi yang berniat berqurban
Ini adalah ketentuan yang sering tidak diketahui atau dilupakan. Nabi ﷺ bersabda:
"Jika kalian telah melihat hilal Dzulhijjah dan salah seorang di antara kalian ingin berqurban, maka hendaknya ia menahan diri dari (memotong) rambut dan kukunya."
(HR. Muslim 1977)
Dalam riwayat lain: "…janganlah ia menyentuh sedikitpun dari rambut dan kulitnya sampai ia berqurban." Ini adalah larangan yang jelas: bagi siapa yang telah berniat untuk berqurban, maka mulai masuk bulan Dzulhijjah (1 Dzulhijjah) ia tidak boleh memotong rambut, kuku, atau mengambil kulit dari tubuhnya, hingga hewan qurban disembelih.
Beberapa catatan penting terkait larangan ini:
- Khusus shohibul qurban. Larangan ini hanya berlaku bagi yang berniat berqurban (shohibul qurban). Anggota keluarga yang tidak berqurban tidak terkena larangan ini, mereka boleh memotong rambut dan kuku seperti biasa.
- Bukan syarat sah qurban. Jika seseorang melanggar larangan ini, misalnya lupa atau tidak tahu, qurbannya tetap sah dan tidak batal. Namun ia dianjurkan beristighfar.
- Hikmahnya. Para ulama menjelaskan bahwa larangan ini memiliki kemiripan dengan keadaan orang yang berihram, mengingatkan bahwa berqurban adalah ibadah besar yang memiliki kehormatan tersendiri.
- Yang dimaksud "rambut". Meliputi rambut kepala, jenggot, kumis, bulu ketiak, dan bulu kemaluan. Yang dimaksud "kuku" adalah kuku tangan dan kaki. Yang dimaksud "kulit" adalah memotong atau mengambil kulit yang tumbuh berlebihan (seperti kapalan) secara sengaja.
Jika seseorang belum berniat qurban saat 1 Dzulhijjah tiba, lalu baru berniat setelahnya, ia menghentikan memotong rambut/kuku sejak saat itu dan tidak perlu mengqadha yang sudah terlanjur dipotong sebelum niatnya.
Jangan lewatkan Subuh di hari-hari penuh berkah ini. FivePrayer mengirimkan notifikasi adzan yang akurat berdasarkan lokasi Anda, memastikan Anda terbangun untuk Subuh di setiap hari Dzulhijjah yang berharga. Gratis untuk iOS, Android, dan Chrome.
Pertanyaan umum
Apakah 10 hari Dzulhijjah lebih baik dari 10 malam terakhir Ramadan?
Pertanyaan ini memang sudah lama menjadi perbincangan di kalangan ulama. Ibnu Taimiyah rahimahullah memberikan jawaban yang paling memuaskan: hari-hari Dzulhijjah lebih utama dari hari-hari Ramadan (terakhir) untuk beramal sholeh secara umum, karena di dalamnya terdapat Hari Arafah dan Idul Adha. Namun malam-malam Ramadan, terutama malam Lailatul Qadar, lebih utama dari malam-malam Dzulhijjah. Jadi keduanya memiliki keunggulan masing-masing pada dimensinya.
Apakah puasa 9 hari pertama Dzulhijjah wajib?
Tidak wajib, hukumnya sunnah (dianjurkan). Tidak ada seorang ulama pun yang mewajibkannya. Yang paling ditekankan adalah puasa hari ke-9, yaitu Hari Arafah (sekitar 5 Juni 2026), yang menghapuskan dosa setahun lalu dan setahun mendatang (HR. Muslim 1162). Puasalah sebisa mungkin, bahkan satu atau dua hari sudah sangat bernilai.
Mengapa hadits menyebut amal di 10 hari ini lebih baik dari jihad?
Karena 10 hari pertama Dzulhijjah adalah satu-satunya waktu dalam setahun yang menggabungkan tiga ibadah besar Islam sekaligus: Haji, Hari Arafah, dan Idul Adha plus Qurban. Tidak ada rentang waktu lain yang menjadi panggung semua ibadah besar ini secara bersamaan. Timing yang sangat berkah ini melipat gandakan nilai setiap amal. Pengecualian hanya bagi mujahid yang mengorbankan jiwa dan hartanya sepenuhnya, yang tidak kembali sama sekali.
Bagaimana jika saya tidak bisa puasa penuh 9 hari?
Tidak ada kewajiban melengkapi semua 9 hari, karena ini adalah puasa sunnah. Tidak ada dosa jika melewatkan satu hari atau lebih. Prioritaskan Hari Arafah (9 Dzulhijjah), jika hanya mampu berpuasa satu hari, itulah yang terpenting. Untuk hari-hari lain, puasalah sebisa mungkin sesuai kemampuan fisik dan kondisi.
Apakah perempuan yang sedang haid bisa beramal di 10 hari ini?
Ya, tentu saja. Kondisi haid tidak menghalangi seorang perempuan dari meraih keutamaan 10 hari Dzulhijjah. Ia tetap bisa memperbanyak dzikir (takbir, tahmid, tasbih, tahlil), membaca Al-Qur'an menurut pendapat jumhur ulama, bersedekah, mempererat silaturahmi, berbuat kebaikan, dan beramal sholeh lainnya. Puasa bisa diqadha di waktu lain setelah suci, meskipun pahala puasa Arafah tidak bisa diqadha di hari lain karena keistimewaannya ada pada timing hari itu sendiri.
Apakah larangan potong rambut dan kuku berlaku untuk seluruh keluarga?
Tidak. Larangan ini hanya berlaku bagi shohibul qurban, orang yang berniat dan akan berqurban atas namanya sendiri. Anggota keluarga lain (suami/istri, anak-anak, orang tua) yang tidak berqurban boleh memotong rambut dan kuku kapan saja seperti biasa. Larangan ini bersifat personal, terikat pada niat berqurban, bukan pada status keluarga.
Notifikasi adzan akurat untuk 10 hari Dzulhijjah.
FivePrayer menampilkan jadwal sholat lima waktu yang akurat berdasarkan lokasi Anda, lengkap dengan notifikasi adzan yang bisa disesuaikan. Jangan lewatkan satu pun sholat fardhu di hari-hari paling berharga dalam setahun ini. Gratis, tanpa iklan, tanpa akun. Tersedia di iOS, Android, dan Chrome.